PAN Jabar

PAN Jabar
Marhaban Ya Ramadhan

H. Iskandar S.Sos Nahkodai SWI 2026 - 2031

 


Boyolali, LHI

Aula Hotel Front One The Andya Boyolali, di Jalan Merdeka Timur, Wonosari, Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjadi saksi sejarah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI), Kamis malam (21/5/2026).

Suasana forum yang awalnya diharapkan berjalan tenang dan penuh khidmat berubah menjadi penuh dinamika. Bukan karena fasilitas ruangan yang kurang nyaman, melainkan karena kuatnya gelombang aspirasi, keresahan, dan kecintaan para peserta terhadap masa depan organisasi SWI.

Munas yang dihadiri delegasi dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia itu berlangsung panas sejak agenda pemilihan Ketua Umum dimulai. 

Perdebatan mencuat lantaran dari dua nama yang sebelumnya digadang maju sebagai calon ketua umum, hanya satu kandidat yang hadir hingga tahapan akhir sidang. Selain itu, sebagian administrasi pencalonan juga menjadi sorotan peserta forum.

Suara-suara kritis pun bergema di dalam aula.
“Ini tidak demokratis!” seru salah satu peserta sidang.
Namun di sisi lain, peserta lain menyampaikan pandangan berbeda.
“Situasi organisasi membutuhkan keputusan cepat. Jangan biarkan SWI kosong tanpa nahkoda,” ujar peserta lainnya.

Perdebatan berlangsung sengit. Adu argumentasi tak terelakkan. Namun menariknya, seluruh dinamika itu tetap berada dalam koridor organisasi dan semangat menjaga persatuan.

Ketua DPD SWI Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Alimusa, yang hadir sebagai perwakilan Provinsi Sumatera Selatan, mengaku merasakan langsung atmosfer emosional dalam forum tersebut.
Ia menyebut, di balik ketegangan sidang, tersimpan semangat besar para delegasi yang datang dari berbagai daerah demi memastikan keberlangsungan organisasi wartawan tersebut.

“Di satu sisi saya memahami pentingnya aturan organisasi. Namun di sisi lain, saya juga melihat semangat luar biasa dari rekan-rekan delegasi yang datang dari Aceh, Sumatera, Lampung, Banyuwangi, Sulawesi, Tangerang, Jakarta, Palembang, Palu dan berbagai daerah lainnya. 

Mereka menempuh perjalanan panjang demi satu tujuan, yaitu menjaga SWI tetap hidup dan terus berjalan,” ungkap Alimusa.

Sebanyak 56 delegasi dari seluruh Indonesia hadir dalam Munas tersebut. Situasi sempat memanas ketika sejumlah peserta mempertanyakan mekanisme pemilihan yang dinilai belum ideal. Namun forum akhirnya sepakat mengambil jalan tengah melalui mekanisme voting.

Pemungutan suara dilakukan dengan pilihan calon tunggal melawan kertas kosong sebagai bentuk penegasan demokrasi organisasi.

Hasilnya:

H. Iskandar memperoleh 49 suara
Abstain sebanyak 4 suara
Tiga suara lainnya dinyatakan di luar konteks

Dengan hasil tersebut, H. Iskandar resmi terpilih sebagai Ketua Umum Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI).Sesaat setelah hasil dibacakan, suasana aula mendadak hening. Ketegangan yang sejak awal terasa perlahan berubah menjadi rasa lega. Para peserta yang sebelumnya terlibat perdebatan akhirnya saling mendekat dan berjabat tangan.

Momentum itu menjadi pemandangan yang mengharukan. Tidak ada lagi kubu-kubuan, tidak ada rasa menang atau kalah. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa organisasi harus tetap berdiri di atas persaudaraan.

“Pak Iskandar, kami titip SWI,” ujar Alimusa sambil menggenggam tangan Ketua Umum terpilih.
“Siap, Mas Ali. Ini bukan kerja satu orang, ini kerja kita semua,” jawab H. Iskandar.

Di luar gedung, suasana malam Boyolali tampak tenang. Sejumlah anak muda menikmati kopi di angkringan dengan lampu temaram khas Jawa Tengah. Namun di dalam aula Munas, semangat persatuan justru terasa menyala terang.

Munas SWI 2026 menjadi bukti bahwa perbedaan pandangan dalam organisasi bukanlah ancaman, melainkan bagian dari proses demokrasi yang sehat. Para wartawan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa perdebatan dapat diselesaikan dengan kedewasaan dan rasa saling menghormati.

Forum tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa tantangan terbesar insan pers saat ini bukanlah perbedaan internal, melainkan bagaimana menjaga independensi, memperjuangkan keadilan, melawan kebodohan publik, serta terus menyuarakan kebenaran di tengah derasnya arus informasi.

Terpilihnya H. Iskandar diharapkan menjadi awal baru bagi SWI untuk semakin solid, profesional, kritis, dan beradab dalam menjalankan fungsi pers sebagai pilar demokrasi.

Malam itu, seluruh delegasi pulang membawa satu rasa yang sama: lega dan gembira ,bukan semata karna hasil pemilihan melainkan karna SWI berhasil melewati ujian Demokrasi dengan tetap menjaga Persaudaraan. Di panggung Demokrasi Suara boleh berbeda Namun Salam persaudaraan tidak boleh pudar  ( SWI OKI )

Post a Comment

0 Comments