Kehadiran Abah Anton di Acara “Sawala Adat Budaya Sunda” di Gunung Sanghyang sebagai Bukti Kecintaannya Terhadap Adat Tradisi Seni Budaya Sunda


Garut,LHI
 

Pencinta Kabuyutan Gunung Sanghyang Komunitas Budaya Yayasan Limbangan Wangi (KPKGS) Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut sukses menggelar “Sawala Adat Budaya Sunda 2022” dalam rangka Kemah Budaya di Gunung Sanghyang, berlangsung cukup meriah dan khidmat.

 Pada acara Kemah Budaya tersebut di hadiri tokoh masyarakat Abah Anton Charliyan panggilan akrab Irjen Pol (Purn) Dr. H.Anton Charliyan,MPKN mantan Kapolda Jabar sebagai tamu kehormatan  , jajaran FSKN, Keraton Sumedang Larang, RWS, FSKN, Yayasan Pamanah Rasa Nusantara', APDESI , DKKG, JAPPI, Santri Pasundan, Abah Dede Panjalu,   Dayak Sagandu   dari Majalengka, omas Pemuda Pancasila, FKPPI, ratusan tokoh Sunda serta ketua komunitas budaya Sunda dari Bogor, Cianjur,Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan tamu undangan lainnya. Ju ga seniman kacapi yang sudah makalangan diberbagai negara seperti Imam Jimbot pun justru  ikut mendukung dan meriahkan acara Sawala Budaya Limbangan.Tampak hadir pula pejabat dari dinas terkait.

“Kemah Budaya merupakan agenda tahunan di Gunung Sanghyang Limbangan Kabupaten Garut. Adapun yang hadir tokohnya sudah masuk seluruh tokoh se Jawa Barat, kadang juga suka datang dari luar Jabar bahkan turis. Kemah Budaya merupakan agenda menyambut bulan Muharam lewat budaya. Adapun kegiatannya adalah masuk kedalam 12 pemajuan kebudayaan yang masuk dalam UU Pemajuan Kebudayaan. “ujar  Ani Suhartini, M.Pd selaku Ketua Umum Penyelenggara  Kemah Budaya Tahun 1444 H/2022 kepada LINTAS PENA

            Ani Suhartini,M.Pd menjelaskan, bahwa kegiatan Sawala Adat Budaya Sunda Dina Raraga Kemah Budaya di Gunung Sanghyang diantaranya: Pawai Obor, Rajah/ Ritus . Helaran Budaya ( Gondang Buhun, Jibrut, Calung, Seni Terbang, Kendang Penca, Jaipongan, Tarian Klasik dan Seni lainya yang merupakan Sumbangan dari para tamu undangan) ,Saresehan Ngahurip Bumi, Pameran Kuliner tradisi setempat, Pameran Benda Budaya Limbangan di Museum Bumi Nyai Tangulun) . Kaulinan Barudak seperti Jajangkungan ( Engrang), Penanaman pohon keras dan buah buahan dan Napak tilas ke Makam Leluhur Limbangan.

            “Kami dari  Komunitas Pecinta Kabuyutan Gunung Sanghyang dibawah Yayasan Limbangan Wangi   yang terus konsisten melaksanakan kegiatan tersebut tanpa lelah sebagai upaya “ngemumule” melestarikan adat tradisi seni budaya Sunda yang kini nyaris punah.”ungkapnya.

Ketua KPKGS ini menjelaskan maksud dan tujuan digelarnya Sawala Adat Budaya Sunda tersebut, bahwa kegiatan ngaguar adat budaya dengan Tema “SAWALA ADAT BUDAYA KASUNDAAN DINA RARAGA  KEMAH BUDAYA GUNUNG SANGHYANG” merupakan bentuk syukuran di bulan Muharam 1444 H  . antara lain:

a).Sebagai upaya menarik perhatian publik akan pentingnya menjaga kestabilan ekosistem di alam dan usaha penyadaran masyarakat untuk pengelolaan alam sebagai sumber daya dan tempat tinggal yang berkelanjutan.

b).Meningkatkan penghargaan terhadap bumi dengan tidak berlaku semenamena terhadap alam dimana pun adanya.

c).Tidak menjadikan alam sebagai tempat yang bisa di eksplorasi sekehendak hati, atau berlaku mempersempit lahan-lahan hijau menjadi lahan-lahan industri

d).Menyadarkan kembali Masyarakat akan SAPTA PESONA, khususnya di objek wisata maupun sepanjang jalan menuju objek wisata tersebut.

e).Ikut berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kekayaan negeri dibidang sejarah dan budaya yang beraneka ragam

f).Meningkatkan apresiasi Masyarakat terhadap Adat Budaya,Seni Tradisi, Sejarah, Budaya dan Peradaban Limbangan yang menjadi cikal bakalnya sebuah kebudayaan yang hingga saat ini masih bisa dipertahankan..

g).KPKGS ikut berperandalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ikatan sejarah dan budaya.

h).Meningkatkan kunjungan Wisatawan ke objek wisata alam, khususnya yang berbasis pegunungan dan sejarah kebudayaan.

i).Wujud rasa syukur terhadap Alloh SWT pada bulan Muharam 1444 H dan HUT RI yang ke-77.

            Ani Suhartini,M.Pd mengucapkan terima kasih kepada jajaran Dinas Pariwisata Garut maupun Provinsi Jawa Barat yang telah memberikan dukungan penuh dan akademisi dari ISBI Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang terus mensuport baik mahasiswanya KKN dan juga para dosen terus loyalitas memberi dukungan pada kegiatan Kemah Budaya tersebut.Dinas terkait seperti Pemda Garut, Pemda Provinsi Jawa Barat, LHK,   Jarum coklat / Coklat kita sebagai salah satu sponsor Tunggal dalam kegiatan tsbt, serta ratusan tokoh masyarakat dan tokoh komunitas budaya Sunda yang telah hadir.

            “Secara khusus, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Abah Anton Charliyan, seorang tokoh budaya Sunda dan tokoh masyarakat Jawa Barat yang sangat peduli terhadap eksistensi adat tradisi seni budaya Sunda. Beliau konsisten untuk melestarikan dan mengembangkan adat tradisi seni budaya Sunda,”tuturnya

            Sementara itu, Abah Anton Charliyan ketika dimintai komentarnya terkait Sawala Adat Budaya Sunda tersebut, beliau mengungkapkan “Saya mengapresiasi kegiatan Sawala Adat Budaya Sunda yang diselenggarakan oleh  Pencinta Kabuyutan Gunung Sanghyang Komunitas Budaya Yayasan Limbangan Wangi (KPKGS) dan turut  bergembira dengan melihat antusiasnya ratusan tokoh Sunda dan sedepuh komunitas Sunda di Jawa barat yang hadir. Acara sawala ini yang secara tidak langsung telah  turut memajukan bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki identitas dan identitas itu terletak pada budayanya yang dapat menangkal  hal-hal negatif yang kurang sesuai dengan jati diri yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.”pungkasnya

            Abah Anton Charliyan yang juga mantan Kadiv Humas Polri ini mengcungkan jempol kepada penyelenggara Sawala Adat Budaya Sunda Dina Raraga Kemah Budaya di Gunung Sanghyang Kec.Limbangan Kab. Garut, adalah Komunitas Pecinta Kabuyutan Gunung Sanghyang dibawah Yayasan Limbangan Wangi yang diprakarsai oleh Ani Suhartini M.Pd yang terus konsisten melaksanakan kegiatan tersebut tanpa lelah.  “Saya sangat mendukung kegiatan Sawala Adat Budaya Sunda yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Gunung Sanghyang. Karena saya melihat dari tujuan diadakan gelaran Sawala Adat  Budaya Sunda  ini untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air serta semangat kebersamaan kepada para tokoh adat ,tokoh budaya dan tokoh seni di Tatar Sunda khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sehingga ketika berbicara nasionalisme dan cinta tanah air ,agar masyarakat nya menjaga suatu kabuyutan ,tempat suci,sebagai cinta kepada tanah air dan diharapkan ada dukungan dari pemerintah dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah “ujarnya

            Menurut Abah Anton, sikap dan perilakunya orang Sunda yang harus Ilmu Pare (Padi) dan Cinta Damai ( Silih Asah ,Silih Asih ,Silih Asuh) dengan membangun kekuatan dengan kedamaian , kerendahan hati ,etika sopan santun ,kita baru bisa kuat . “Sehingga cinta terhadap Tanah Air yang terus menerus dikobarkan semangat di berbagai kalangan ,supaya jangan sampai ada permusuhan tetapi lebih untuk saling membantu. Membina dan membimbing supaya Kita kuat dan lebih maju dalam segala bidang tidak melupakan adat istiadat , kebudayaan leluhur kita yang terdahulu , tetapi harus dijaga dan dilestarikan bersama -sama supaya bisa menjadi warisan yang bisa membanggakan di kancah internasional”pungkasnya. (REDI MULYADI)***

 

 

Post a Comment

0 Comments