KI IHSAN JAGA RAKSA salah seorang tokoh seni budaya Sunda yang cukup terkenal di wilayah Priangan Timur,khususnya Tasikmalaya. Karena dia seringkali tampil dalam atraksi kesenian tradisional seni beladiri Pencak Silat, Debus dan Lais yang khas Tasikmalaya.
”Jujur saja, seni beladiri pencak silat, Lais dan Debus kurang diminati generasi muda, sehingga keberadaannya hampir punah. Karena milihat kondisi inilah,kami dari Padepokan Eyang Asta Wijaya Kusumah dan Padepokan Putra Sancang berusaha turut melestarikan dan mengembangkan seni budaya Sunda, khususnya Pencak Silat, Lais dan Debus yang menjadi kesenian khas Tasikmalaya,” ungkapnya
Ki Ihsan panggilan akrabnya mengakui, bahwa Tasikmalaya memiliki kekayaan budaya dan kesenian tradisional yang khas, di mana Debus dan Lais sering dipentaskan sebagai bagian dari seni ketangkasan, keberanian, dan magis. Kesenian ini sering dipadukan dengan pencak silat. ”Pencak Silat, Debus dan Lais tak terpisahkan,” katanya.
Debus di Tasikmalaya merupakan salah satu kesenian tradisional yang menunjukkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam atau benda keras. ”Meskipun debus sangat identik dengan Banten, debus di Tasikmalaya, khususnya di area Gunung Galunggung, memiliki ciri khas sendiri sebagai warisan budaya Sunda. Atraksi debus meliputi aksi menusuk perut dengan tombak, mengiris tubuh dengan golok, memakan bola api. Bara api, atau menusukkan jarum ke lidah tanpa terluka.”jelas Ki Ihsan yang sering tampil di berbagai event kesenian sejak tahunan yang lalu.
Terakhir beratraksi debus, Ki Ihsan tampil di acara Milangkala Padepokan Penglipur Jln Indihiang BKL Kota Tasikmalaya,hari Sabtu 17 Januari 2026. Dia tampil memukau dengan menggorok leher/wajah/parutnya dengan golok tajam maupun bilah bambu, kemudian makan bara api ”ngadahar ruhak seuneu” yang menjadi ciri khasnya saat dia tampil atraksi.Ki Ihsan spesialis pertunjukan seni debus.Kalau seni Lais, ada pelaku lain yang khusus mendalaminya.
Lais adalah seni pertunjukan akrobatik khas Sunda yang menantang adrenalin. Pelaku lais (penari) berjalan di atas seutas tali yang dibentangkan tinggi antara dua tiang bambu. ”Pertunjukan lais sering dipadukan dengan debus dan pencak silat, menjadikannya satu kesatuan seni pertunjukan yang menonjolkan keberanian, menantang adrenalin. Tak banyak orang yang menjadi pelaku lais, karena dibutuhkan keberanian, keahlian dan latihan ekstra.”imbuhnya
Kemudian bicara soal seni beladiri pencak silat, menurut Ki Ihsan, istilah lian atau ulin usik sering merujuk pada aliran bela diri yang berfokus pada teknik bela diri yang halus namun mematikan.” Kesenian debus di Tasikmalaya merupakan perpaduan antara kebatinan, seni suara, dan Pencak Silat”paparnya.
Dia mengatakan, pagelaran , pencak silat debus dan lais yang merupakan atrakasi "karuhun" (leluhur), tujuan memperkenalkan seni budaya kepada generasi muda sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya agar tidak punah."Kami dari komunitas seni Padepokan Eyang Asta Wijaya Kusumah dan Padepokan Putra Sancang, sengaja pentas di sini dalam rangka melestarikan seni budaya khas juga sebagai ajang ekspresi kami. Ini juga untuk meyakini bahwa kesenian leluhur ini adalah kesenian yang baik dan perlu dilestarikan," ujarnya setelah tampil di acara Milangkala Padepokan Penglipur Jln Indihiang BKL Kota Tasikmalaya
Ki Ihsan pun berharap kedepannya kegiatan-kegiatan pentas seni dan budaya khas Jabar maupun nasional bisa sering muncul agar tetap lestari, tak dilupakan para generasi muda."Untuk para generasi muda, saya titip seni budaya karuhun ini agar tetap lestari," kata dia, seraya menambahkan, pihaknya juga memberikan bimbingan seni budaya debus dan lais kepada kalangan muda.
Pertunjukan seni beladiri pencak silat, kesenian Lais dan Debus ini adalah bagian dari seni budaya Sunda yang telah diwariskan turun-temurun. Semua aksi ekstrem yang terlihat dilakukan oleh praktisi profesional yang memiliki pengendalian diri, latihan khusus, serta kedisiplinan spiritual yang sangat kuat. “Seni Lais dan Debus bukan untuk pamer kekuatan, tetapi sebagai simbol keteguhan mental, doa, dan nilai budaya yang harus kita jaga bersama.Mari bersama-sama mengapresiasi, bukan menghakimi. Kesenian seperti ini adalah identitas leluhur kita.”pungkasnya. (REDI MULYADI)****


0 Comments