PAN Jabar

PAN Jabar
Marhaban Ya Ramadhan

Hujan, Lumpur, dan Sabuk Baru: Perjuangan Karateka Batam yang Tak Terguyur Mundur

 



Batam – LHI

Langit sore itu seperti sedang menguji nyali. Awan hitam menggantung berat di atas Lapangan Dataran Engku Hamidah tepatnya di depan Edukits Sungai Panas, Batam Center, Kota Batam, sebelum akhirnya runtuh menjadi tirai hujan yang membasahi seluruh penjuru.

Angin dingin menyapu, tanah lapangan berubah licin, genangan air membentuk cermin-cermin kecil di setiap sudut. Namun, di tengah semua itu, ada derap kaki kecil dan besar yang berpadu dengan cipratan lumpur—irama yang lahir dari tekad para karateka yang enggan mundur.

Minggu (10/8/25) itu, puluhan karateka dari tiga dojo—Gagak Timur, Sinar Timur, dan Hikari—berkumpul untuk menerima sabuk kenaikan tingkat, tiga minggu setelah ujian mereka pada Minggu (20/7/25) lalu.

Tapi, sebelum sabuk baru melingkar di pinggang, mereka dihadapkan pada ujian fisik tambahan yang tak pandang cuaca. Push-up di tanah becek, lari cepat di tengah hujan, hingga rangkaian pukulan dan tendangan yang diulang berkali-kali, membuat setiap gerakan memercikkan air yang membasahi wajah dan seragam mereka.

“Sabuk itu tidak datang dari sekadar berdiri di barisan. Sabuk itu harus dibayar dengan keringat, bahkan kalau perlu dengan hujan dan lumpur. Hari ini mereka belajar bahwa setiap pencapaian punya harga,” tegas Senpai Paulus Pela, atau Senpai Arnold, pimpinan Dojo Gagak Timur, yang memimpin jalannya prosesi.

Di antara barisan, empat bersaudara anak pasangan Jonrius Sinurat dan Lianni Nababan menjadi sorotan. Elsa Damiana Sinurat (13) naik dari sabuk putih ke kuning, Cornelius Nielsen Sinurat (11) dari kuning ke hijau, dan Nelly Laurentia Sinurat (8) dari putih ke kuning. Sementara Olivia Great Sinurat (5) tetap bertahan di sabuk putih karena tidak mengikuti ujian sebelumnya.

Pimpinan Dojo Mutiara, Senpai Maria Tiara Novilia, juga turut hadir memberikan materi latihan fisik kepada penerima sabuk penurunan kyu.

Elsa, mengaku awalnya mengira hanya akan menerima sabuk, tetapi justru mendapat tantangan ekstra.“Capeknya luar biasa, tapi saya merasa bangga bisa melewati ini. Rasanya sabuk ini jadi lebih berarti,” ujarnya dengan nafas terengah.

Di pinggir lapangan, para orang tua menjadi penonton setia. Ada yang berteduh, ada pula yang pasrah membiarkan hujan membasahi rambut dan pakaian mereka.

Jonrius Sinurat yang kesehariannya menjalankan profesi jurnalis dan berstatus Mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (Unrika), ayah dari empat karateka itu, berdiri dengan mata yang tak lepas dari perjuangan anak-anaknya.

“Sebagai orang tua, saya terharu sekaligus bangga. Mereka bukan hanya belajar jurus, tapi belajar arti keteguhan hati. Saya ingin mereka ingat hari ini, bahwa dalam hidup tak ada yang didapat tanpa perjuangan,” ucapnya sambil tersenyum di balik rinai hujan.

Sorak-sorai menggema setiap kali tantangan fisik terselesaikan. Senyum merekah di wajah para karateka saat sabuk baru diikatkan di pinggang mereka, basah kuyup oleh hujan, namun hangat oleh rasa bangga.

Dan ketika acara usai, hujan belum juga berhenti. Tapi tak seorang pun mengeluh. Hujan sore itu berubah menjadi saksi bisu bahwa keberanian dan tekad lebih kuat dari cuaca.

Setiap sabuk yang melilit pinggang menjadi tanda perjalanan panjang, penuh lumpur, keringat, dan keteguhan hati—kisah yang akan mereka bawa seumur hidup, tak akan pernah luntur, bahkan oleh derasnya air langit.(JAHOTMAN.S)***

 

Post a Comment

0 Comments