Anton Charliyan: Para Penyerang Ade Armando dan 6 Anggota Polri serta Aktor Intelektualnya Layak Untuk Dihukum Seberat-beratnya


Bandung,LHI

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadhil imran dalam keterangan persnya di Polda Metro Jaya didampingi Pangdam Jaya, menyatakan bahwa telah terjadi insiden penaniayaan,  terhadap tokoh aktivis penggiat anti radikalisme & intoleran, Bung Ade Armado,  serta terjadinya penyerangan terhadap  enam petugas kepolisian di   depan Gedung DPR RI Senayan Jakarta Selatan , hari Senin 11 April 2022 pada saat terjadinya unjuk rasa BEM SI yang mengakibatkan para korban mengalami luka berat sehingga harus dirawat di rumah sakit, yang mana pada saat itu para pengunjuk rasa menuntut diturunkannya Jokowi sebagai Presiden RI. Akibat isue sepihak  perpanjangan jabatan 3 periode yang senantiasa di sengaja digoreng oleh kelompok oposisi yang anti pemerintah,

Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan,MPKN   mantan Kadiv Humas Polri yang juga saat ini merupakan  salah satu tokoh Jabar Penggiat Anti Radikalisme & Intoleran juga, turut berbicara menyatakan rasa keprihatinan yang sangat dalam, dan sangat menyesalkan atas terjadinya insiden tsb.

“Dengan kejadian tsb membuktikan bahwa aksi tsb sudah tidak  lagi sebagai suara murni gerakan aksi para mahasiswa, tetapi jelas-jelas dengan  kasat mata sudah ditunggangi oleh para penumpang gelap yang memang sudah ngebet ingin segera berkuasa dengan cara inkontitusional, dengan menghalalkan segala cara, Salah satunya mencoba memancing di air keruh dengan membuat kerusuhan pada saat aksi demo tsb, dimana pola ini merupakan pola klasik yang dikenal dengan " Martir " yakni para pengunjuk rasa mencoba membuat kerusuhan  menyerang petugas yang diharapkan oleh mereka, para petugas tsb terpancing emosinya dan balik menyerang  mereka, sehingga mereka terluka  bahkan akan sangat bagus bila sampai meninggal dunia, sehingga akan menempatkan diri mereka sebagai  korban atau playing victim dalam aksi tsb, maka dengan demikian ada alasan untuk membuat kerusuhan yang lebih besar sampai  terjadinya  cheos , sebuah teknik kotor & licik untuk bisa menjatuhkan pemerintah. Namun alhamdulillah, sudah terbaca dari jauh jauh sebelumnya hari oleh para inteljen , sehingga hari ini mereka gagal melakukan missinya lebih jauh. Sebuah taktik kuno yang memang sangat efektif yang masih sering dilakukan oleh para perusuh untuk menciptakan situasi cheos di berbagai negara. Jadi apabila ada yang meninggal dalam sebuah aksi demo, hal tsb memang sengaja di setting untuk mencari mati. Bahkan bila perlu diekekusi oleh kelompoknya sendiri yang menyamar sebagai petugas yang tidak dikenal, sehingga dengan demikian akan sangat mudah untuk menyerang, menyalahkan,  menyudutkan dan menjatuhkan  pemerintah. “papar Abah Anton, panggilan Anton Charliyan

Lebih lanjut mantan Kapolda Jabar ini menjelaskan, “Kenapa hal ini kita sampaikan kepada publik walaupun kami yakin masyarakatpun banyak sekali yang sudah faham akan hal ini,  hanya sekedar untuk mengingatkan kembali dan mewaspadai cara cara busuk & licik mereka. Jangan sampai salah satu kerabat keluarga kita ikut-ikutan, malah nantinya yang jadi korban " Martir "ketika ikut aksi demo. serta langsung ikut-ikutan menyalahkan pemerintah dengan serta merta. Padahal para ambisius dan politikus busuk, memang sengaja menjadikan para pendemo sebagai "wadal" untuk bisa mencapai dan  menduduki kursi kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara.  Namun sayangnya giliran para petugas yang jadi korban, bahkan banyak yang sampai meninggal dunia.., siapa yang mau peduli dan menyuarakan penderitaan mereka ? Padahal para petugas juga  sama sebagai seorang manusia, yang punya anak istri dan kekuarga , yang saat itu hanya menjalankan tugas saja, yang sama-sama duduk sebagai korban kekerasan.... Namun tidak pernah kita saksikan Komnas HAM turun menyuarakan petugas sebagai  korban HAM, sekalipun petugas sampai meninggal dunia.L ain halnya jika para demonstran yang jadi korban, suaranya pasti sampai ke ujung dunia. Lalu jika demikian untuk siapakah HAM tsb sesungguhnya, apakah jika para petugas sebagai korban tidak dianggap lagi sebagai manusia.dan dihapus HAM nya karena berstatus sebagai petugas negara. Karena mungkin rumusan HAM yang dianggap manusia hanya para pengunjuk rasa.tidak termasuk petugas negara. “ungkapnya menyesalkan.

Maka dari itu dengan kejadian di Senayan , menurut Anton Charliyan,  entah yang ke berapa ribu kali petugas menjadi korban, kiranya bisa di adikan moment yang tepat untuk membuat regulasi tindakan keras dan tegas terhadap siapapun yg menyerang petugas negara , baik TNI,POLRI  Satpol PP dll  sebagai  perlindungan dan HAM bagi petugas negara di lapangan, berlakukan hukum yang sekeras-kerasnya seperti yang sudah dilakukan oleh negara maju seperti Eropa dan Amerika, Jika perlu hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati bila mengakibatkan para perugas sebagai abdi negara gugur meninggal dunia akibat ulah perbuatan mereka.  Sehingga    masyarakatpun akan berpikir seribu kali untuk menyerang para abdi negara yang sedang bertugas, jangan sampai menunggu para abdi negara jadi korban berikutnya lagi apalagi menunggu sampai ada yang gugur meninggal dunia. Karena kami yakin Taktik Martir ini akan selalu dijadikan Tactik Terpaporit dalam setiap kesempatan. Bila HAM para petugas tidak terlindungi dengan pasti secara hukum, akan banyak sekali abdi negara menjadi korban aksi balas dendam mereka tanpa ada hukuman yang keras dan tegas.

“Sekali lagi saya sebagai  pribadi dan rekan rekan yang masih cinta NKRI, turut prihatin yang sedalam-dalamnya atas terjadinya penyerangan terhadap saudara seperjuangan kami Bung Ade Armando dan para abdi negara terbaik yang luka-luka pada saat menjalankan tugas dilapangan.  Kami mohon pemerintah jangan hanya menghukum para penyerangnya tapi harus nampu mengusut tuntas para aktor intelektual yang ada dibalik semua ini sampai keakar-akarnya, 1000% pasti ada dalang dibalik aksi yang sangat terencana ini, yang sengaja menjual nama kampus & mahasiswa sebagai covernya. Karena jika dibiarkan berpotensi untuk terus merongrong dan membuat gaduh, dan kami yakin tidak akan berhenti sampai disini saja , akan terus berjilid-jilid,  sampai pemerintah  jatuh. Disamping itu rasa salut kami sampaikan , apresiasi yang setinggi-yinggnya angkat 2 jari jempol, kepada  semua petugas dilapangan baik TNI maupun POLRI dpp Kapolda Metro dan Pangdam Jaya, atas kedisiplinanya dan sikap Kesabaranya yang tidak terpancing emosi oleh tactik busuk mereka. “pungkas Anton Charliyan disela sela acara buka puasa Bersama di Bandung.(LUKMAN)***

 

Post a Comment

0 Comments