Bandung, LHI- Pemerintahan Provinsi Jawa Barat hanya fokus pada pembangunan fisik/ infrastrukur di 2025 termasuk tahun depan 2026. Jika targetnya menaikan angka pertumbuhan ekonomi, kenapa tidak fokus langsung saja membangun total perekonomian masyarakat Jawa barat yang notabene penduduknya terbesar di Indonesia. Banyak rakyat Jabar yang menganggur meskipun ada yang sudah mendapat pekerjaan tetapi lebih banyak upah kerjanya tidak sesuai dengan UMR-UMK.
Seluruh Rakyat Jawa barat sangat membutuhkan keseriusan dan terobosan Pemerintah Provinsi Jawa barat yang mampu mempercepat kemakmuran bukan sebatas capaian angka pertumbuhan ekonomi 6 persen.
Pemdaprov Jabar dibawah kepemimpinan Gubernur KDM yang terkenal luar biasa mengumandangkan hal-hal luar biasa di medsos haruslah berbanding lurus memiliki program yang luar biasa pula terutama dalam sektor percepatan kesejahteraan hidup seluruh rakyat Jabar yang ia pimpin. Rasanya hambar jika hanya seperti para Gubenur sebelumnya yang hanya memfokuskan pembangunan ke arah infrastrukur.
Sekda Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman merasa optimistis laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada 2026 mencapai 5,5 persen hingga 6 persen. Keyakinan dirinya hanya berlandaskan alasan dapat tercapai karena ditunjang oleh banyaknya kegiatan pembangunan khususunya infrastruktur, yang bakal dilakukan tahun depan.
"Saat ini LPE kita diatas rata-rata nasional sebesar 5,2 persen. Tahun depan kita optimis bisa mencapai 5,5 hingga 6 persen," tegasnya disela kegiatan Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference bertema Optimalidasi Sektor Prioritas Untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jabar, Senin (8/12/2025).
Tren positif LPE tersebut didorong oleh pembangunan infrastruktur yang masif, meningkatnya investasi, serta penguatan aktivitas produksi. Manfaat pembangunan infrastruktur yang tengah digenjot akan mulai berdampak signifikan pada 2026, seiring meningkatnya penyerapan tenaga kerja dan kapasitas produksi industri.
"Dengan catatan soliditas disemua komponen serta strong leadership. Itu sudah tercermin dari Pak Gubernur KDM dengan kepemimpinannya yang kuat dalam mengakselerasi pembangunan di Jabar," tambahnya.
Herman menambahkan hingga saat ini realisasi pendapatan provinsi Jabar sudah mencapai kisaran 85 hingga 90 persen dari yang ditargetkan dan ia yakin pada penghujung 2025 dapat mencapai di atas 95 persen. Demikian juga dengan belanja Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.
"Surplus perdagangan luar negeri Jabar juga masih bagus, dilihat dari masih tingginya nilai ekspor kita," tambahnya.
Data dari BPS Provinsi Jawa Barat mencatat ekspor Jawa Barat pada Oktober 2025 senilai USD 3,36 miliar atau naik 2,69 persen dibandingkan September 2025 yang senilai USD 3,27 miliar. Secara kumulatif, ekspor Jabar dari Januari 2025 – Oktober 2025 naik 2,31 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Secara kumulatif, kontribusi ekspor masih didominasi sektor industri sebesar 98,69 persen, diikuti sektor migas sebesar 0,72 persen dan sektor pertanian sebesar 0,58 persen.
Sementara menurut golongan barang, ekspor tertinggi yaitu golongan kendaraan dan bagiannya senilai USD 7,04 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 5,19 miliar, serta mesin dan peralatan mekanis senilai USD 2,67 miliar.
Adapun, negara tujuan ekspor dari Jawa Barat yang terbesar adalah Amerika Serika senilai USD 5,29 miliar, Filipina USD 2,94 miliar dan Jepang USD 2,38 miliar.
Sejalan dengan ekspor yang mengalami kenaikan, impor Jawa Barat pun naik pada Oktober 2025 secara _month to month_ sebesar 4.13 persen. Nilai impor Oktober 2025 mencapai USD 0,96 miliar, naik dibandingkan September yang mencapai USD 0,92 miliar.
Sepanjang 2025, impor Jawa Barat didominasi oleh bahan baku/penolong sebesar 80,97 persen, diikuti barang modal sebesar 10.75 persen, dan konsumsi 8,28 persen. Menurut golongan barang, nilai impor terbesar adalah mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 1,36 miliar, mesin dan peralatan mekanis senilai USD 0.84 miliar, plastik dan barang dari plastik senilai USD 0,76 miliar.
Negara asal impor dengan nilai terbesar adalah Tiongkok senilai USD 3,35 miliar, diikuti Jepang senilai USD 1,20 miliar, dan Korea Selatan senilai USD 1,15 miliar.
Dengan kondisi ekspor dan impor tersebut, maka sepanjang Januari 2025 – Oktober 2025 neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus sebesar USD 22,27 miliar. Jawa Barat surplus dengan negara Amerika Serikat, Filipina, Thailand dan Vietnam. (Red. Eky AS-Jbr)




0 Comments