PemkabOKU Selatan

PemkabOKU Selatan
Natal 2024 dan Tahun Baru 2025

Kolaborasi Pemda-ITB Kembangkan Wisata Gunung Bungkuk-Blego Magetan "Desain Furnitur Tematik" Ini Pondasi Hukumnya

BANDUNG, LHI,- Kawasan wisata Gunung Bungkuk dan Blego di Kecamatan Parang, Magetan, Jawa Timur, sedang dikembangkan dengan fokus pada geowisata dan olahraga paralayang, dengan potensi untuk menonjolkan kearifan lokal. Pengembangan ini melibatkan kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pemerintah daerah untuk memastikan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis kualitas.


Dr. Arch. Gregorius Prasetyo Aditama, MSn. selaku Dosen dan Peneliti FSRD ITB bertindak sebagai pemimpin program yang dilaksanakan oleh tim ITB bersama anggotanya Kukuh Rizki Satriaji dan Budi Isdianto, lebih berfokus pada pengembangan desain furnitur outdoor untuk meningkatkan kualitas fasilitas wisata di Desa Wisata Gunung Bungkuk.


Hukum pengelolaan alam gunung, bukit, dan lembah yang benar dan baik di Indonesia pada dasarnya berakar pada UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat"


Kerangka hukum yang spesifik dan komprehensif diatur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). UU PPLH adalah payung hukum utama yang mengamanatkan perlunya pelestarian fungsi lingkungan hidup dan pencegahan pencemaran atau perusakan lingkungan. Pengelolaan harus dilakukan secara terencana, terpadu, menyeluruh, dan berkelanjutan.


Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Institut Teknologi Bandung (LPPM-ITB) meluncurkan program pengabdian masyarakat berjudul “Pengembangan Desain Furniture Penunjang Wisata Tematik Berbasis Budaya dan Ruang Terbuka di Kawasan Gunung Blego, Desa Ngunut, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan.”


Kawasan Bungkuk–Blego merupakan salah satu destinasi potensial di Kabupaten Magetan yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan lanskap unik serta menjadi salah satu tujuan wisata olah raga paralayang. 


"Untuk fasilitas ruang terbuka yang tersedia saat ini masih terbatas, terutama elemen-elemen furnitur seperti kursi, meja, shelter, dan papan informasi yang ramah wisatawan serta mencerminkan identitas lokal. Ketersediaan furnitur yang tepat sangat penting untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, mendukung aktivitas wisata outdoor, dan memperkuat citra kawasan," papar Dr. Arch. Gregorius Prasetyo Aditama, MSn.


Ditegaskannya bahwa dalam program tersebut dirancang untuk menghasilkan desain furnitur tematik dan fungsional yang selaras dengan lingkungan alam dan budaya setempat. Adapun Elemen furnitur yang dikembangkan akan memiliki karakter portable, ringan, kuat, serta mudah direplikasi oleh pengrajin lokal. Dengan menggabungkan pendekatan kontekstual, partisipatif, berkelanjutan, ergonomis, dan estetika naratif, program ini memastikan bahwa furnitur yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga merefleksikan identitas kawasan Bungkuk–Blego.


Hal itu diperkuat akan pendekatan kontekstual dilakukan dengan menggali karakter dan kebutuhan lokal berupa bentuk, motif, dan warna dari lanskap alam serta aktivitas luar ruang (outdoor) yang menjadi ciri khas setempat. 


Begitu juga dari sudut pendekatan ekologis diterapkan melalui pemilihan material ramah lingkungan dan sistem konstruksi knock-down dan portable yang memudahkan transportasi, produksi dan perawatan. 


"prinsip ergonomi menjamin kenyamanan dan keamanan pengguna dari berbagai kelompok usia. Dimensi furnitur disesuaikan dengan data antropometri masyarakat lokal agar lebih akurat dan nyaman digunakan," imbuhnya.


Lantas yang menjadi target utama kegiatan meliputi perancangan furnitur ruang terbuka berupa konsep desain beberapa varian kursi serbaguna yang sesuai dengan kondisi wisata outdoor di Gunung Blego, penyusunan gambar kerja serta pembuatan prototipe untuk diujicoba di lokasi setempat.


Dr. G. Prasetyo menerangkan bahwa program tersebut direncanakan berlangsung selama 6 bulan, mencakup tahapan persiapan, survei lapangan, pengumpulan data, proses desain, pembuatan prototipe, penyusunan rencana implementasi, serta sosialisasi dan publikasi hasil. Seluruh tahapan dilaksanakan secara kolaboratif dengan masyarakat dan perangkat desa setempat. Melalui program ini, LPPM ITB berkomitmen berkontribusi pada penguatan identitas ruang dan peningkatan daya saing pariwisata Bungkuk–Blego. 


"Rancangan furnitur yang dihasilkan ini, kami berharap dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh pengrajin lokal, menjadi bagian dari strategi peningkatan ekonomi desa, serta memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut," Tutur papar Dr. Arch. Gregorius Prasetyo Aditama, MSn.


Meskipun informasi spesifik tentang ritual adat atau praktik kearifan lokal yang sudah menjadi paket wisata masih terbatas dalam sumber yang tersedia, fokus pengembangan kawasan ini adalah:

Paralayang: Kawasan ini telah dideklarasikan sebagai area paralayang, memanfaatkan topografi pegunungan untuk aktivitas olahraga dan menikmati pemandangan alam dari udara.

Geowisata: Potensi geologi di sekitar Gunung Bungkuk dan Blego sedang diteliti dan dipersiapkan untuk menjadi destinasi wisata geologi, yang dapat mencakup cerita asal usul geologis dan mungkin kaitannya dengan cerita rakyat setempat.


Pengelolaan Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism/CBT): Pengembangan pariwisata yang mengutamakan kearifan lokal biasanya melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat dalam pengelolaan, perencanaan, dan manfaat ekonomi. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman otentik kepada wisatawan sekaligus melestarikan tradisi dan budaya lokal. (Eky AS)


Post a Comment

0 Comments