PemkabOKU Selatan

PemkabOKU Selatan
Natal 2024 dan Tahun Baru 2025

Anton Charliyan, Penyebab Kematian Korban Diplomat Muda Kemlu RI Perlu Didalami Lagi....!!!

 


BANDUNG----
Polda Metro Jaya mengumumkan hasil penyelidikan kasus kematian Arya Daru Pangayunan atau ADP (39), diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Penyelidikan melibatkan sejumlah ahli dari berbagai bidang. Kesimpulan akhir soal penyebab kematian ADP ini disampaikan dalam agenda konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (29/7/2025).

Kepolisian memastikan diplomat Kementerian Luar Negeri, ADP meninggal dunia akibat bunuh diri. Penyebab kematian diplomat muda tersebut adalah karena gangguan pernapasan akibat tertutupnya saluran napas bagian atas.Hal ini disampaikan Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya, dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta. Kegiatan ini dihadiri Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya bersama tim Puslabfor serta Pusident Bareskrim Polri, Ditressiber, dokter forensik RSCM, Asosiasi Psikolog Forensik (Apsifor), serta Kabid Humas Polda Metro Jaya. “Penyebab kematian korban adalah akibat gangguan pertukaran oksigen dari saluran pernapasan atas,” ujar Wira Satya, Jakarta, Selasa, 29 Juli 2025.

Wira menambahkan dari hasil penyelidikan yang dilakukan secara menyeluruh, tim belum menemukan adanya unsur tindak pidana dalam kasus ini. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah dilakukan scientific crime investigation hingga evaluasi terhadap sejumlah bukti dan keterangan saksi.“Kami simpulkan belum menemukan adanya peristiwa pidana,” ujar dia.

            Dalam hal ini, LINTAS PENA MEDIA Group memintai tanggapannya kepada mantan Kapolda Jabar yang juga Kadiv Humas Polri Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan, yang menilai adanya kejanggalan- kejanggalan kematian ADP pasca konferensi pers yang dilakukan Polda Metro Jaya pada hari Selasa  29 Juli 2025 tersebut. “Kalau menurut saya, polisi jangan cepat menyimpulkan bahwa itu mati bunuh diri atau tidak ada tindak pidana. Itu masih terlalu dini atau premature. Karena ada  kejanggalan kejanggalan pada kasus kematian diplomat Kemenlu yang disampaikan pada konferensi pers Polda Metro Jaya,”ujarnya

            Karena itu, Anton Charliyan yang berpengalaman sebagai penyidik di lingkungan reserse Polri, diantaranya ikut mengusut kasus pembunuhan Marsinah  buruh yang tewas di Surabaya, dan ikut membongkar kasus pembunuhan aktivis Munir., mengungkapkan beberapa kejanggalan kasus kematian diplopat muda ADP pasca konferensi pers Polda Metro  pada hari Selasa 29 Juli 2025.

1.    Istri sudah telpon pada pukul 00.27 WIB masih suruh cek penjaga malam itu , seolah tahu akan terjadi sesuatu, serta pagi-pagi harus suruh buka pintu kost,  jarak waktunya terlalu cepat, seakan tahu telah terjadi sesuatu .

2.    Adakah monitor CCTV lain di sekitar TKP untuk pembanding ?

3.    Periksa ulang alur CCTV yang ada, karena ada keterangan dari ahli telematika, gambar ada yang hilang 20 detik , bahkan tidak menutup kemungkinan diduga ada rekayasa gambar.

4.    Periksa juga WA orang-orang dekat korban, terutama pihak keluarga ( istri , ayah ,ibu , adik , kakak , mertua    ,teman dekat dll) . Apalagi muncul adanya sosok wanita bernama Vara.Sebelum Arya ditemukan tewas, Vara terekam kamera pengawas (CCTV) sempat ikut menemani Arya belanja ke toko pakaian di Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (7/7/2025) mulai pukul 17.52 WIB sampai 18.07 WIB. Selain mereka berdua, ada pula sosok pria bernama Dion.

5.    Analisis komunikasi sampai dengan 6 bulan jangan hanya dalam waktu singkat

6.    Jika mati tanpa orang lain harus ada motif dan alasan

7.    Sebelum ke kantor belanja sesuatu , artinya ada harapan untuk tetap hidup  atau belanja sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk sesuatu kerjaan di malam itu bersama sosok wanita bernama Vara

8.    Kenapa malam-malam ke kantor ? Seperti mengamankan, kerjakan sesuatu atau ambil sesuatu

9.    Periksa ulang TKP siapa tahu ada jalan tersembunyi.

10. Jika bunuh diri akan lakukan makan obat untuk percepat kematian

11. Kenapa ada lakban yang menutup mukanya

12. Tanda luka dileher karena apa ?

”Itu beberapa point kejanggalan kejanggalan pada kasus kematian ADP yang disampaikan di konferensi pers Polda Metro  Jaya. Jadi harus didalami lebih jauh lagi jika ingin terungkap secara pasti,”tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi membuka konferensi pers pengungkapan hasil akhir penyelidikan kasus kematian ADP (39), diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang ditemukan dengan kondisi wajah terlilit lakban di kamar kos Menteng, Jakarta Pusat.

Ade Ary mengatakan pihaknya melakukan penyelidikan secara ilmiah (scientific crime investigation) dengan kolaborasi interprofesi dengan sejumlah ahli dari berbagai keilmuan yang pada akhirnya menjawab apa penyebab hingga motif di balik meninggalnya ADP ini.

Konferensi pers dihadiri Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra dan Wadirreskrimum AKBP Putu Kholis Aryana, Kasubdit Resmob AKBP Ressa Fiardi Marasabessy dan Kanit selaku penyelidik. Penyelidikan juga melibatkan tim dari Puslabfor yang meneliti DNA yang dilakukan oleh Kompol Rofiq, selanjutnya pemeriksaan toksikologi oleh AKP Ade Laksono dari Bareskrim Polri.

Selain itu, Polda Metro Jaya juga bekerja sama dengan Direktorat Siber Polda Metro Jaya untuk meneliti barang bukti digital (digital forensic) yang hasilnya dijelaskan oleh Ipda Saji Purwanto. Selanjutnya, ahli kedokteran forensik dari RSCM yakni dr G Yoga Tohijiwa Sp.Fm yang melakukan pemeriksaan autopsi fisik dan luar terhadap jenazah korban.

 

 

 

 

 

 

Diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan alias ADP (39) diperkirakan meninggal dunia dalam kurun waktu dua hingga delapan jam sebelum dilakukan pemeriksaan luar."Untuk perkiraan waktu kematian almarhum 2 hingga 8 jam sebelum dilakukan pemeriksaan luar," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Yoga Tohijiwa dalam konferensi pers, Selasa (29/7).

Pemeriksaan luar terhadap jenazah Arya dilakukan di RSCM pada Selasa (8/7) sekitar pukul 13.55 WIB. Sementara korban tercatat ditemukan dalam kondisi tak bernyawa oleh penjaga kos pada pukul 07.39 WIB.

Kendati demikian, Yoga tak membeberkan secara pasti ihwal waktu kematian Arya. Ia hanya menyebut waktu kematian diperkirakan dalam rentang waktu tersebut. "Saya ulangi, untuk perkiraan waktu kematian almarhum 2 hingga 8 jam sebelum dilakukan pemeriksaan luar, di mana pemeriksaan luar kita lakukan pada tanggal 8 Juli 2025 pukul 13.55 WIB," ucap dia.

Arya Daru Pangayunan alias ADP (39) ditemukan tewas dengan kondisi wajah terlilit isolasi atau lakban warna kuning di sebuah kos di Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7).

Berdasarkan hasil penyelidikan tim gabungan Ditreskrimum Polda Metro Jaya, polisi memastikan Arya meninggal dunia bukan karena aksi pembunuhan atau tindak pidana. Namun karena mati lemas dan tidak ada peristiwa pidana.

Hal tersebut berdasarkan hasil autopsi forensik dan sejumlah pemeriksaan, seperti histopatologi hingga toksikologi. Termasuk, pemeriksaan psikologi forensik."Hasil pemeriksaan tersebut disimpulkan indikator kematian dari ADP mengarah pada indikasi meninggal tanpa keterlibatan pihak lain," kata Wira dalam konferensi pers.Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra dalam konferensi pers.

"Maka sebab kematian korban adalah akibat gangguan pertukaran oksigen pada saluran pernafasan atas yang menyebabkan mati lemas. Bahwa penyelidikan yang kami lakukan kami simpulkan belum menemukan adanya peristiwa pidana," tambahnya.

Psikologi Forensik: Arya Daru Alami Burn Out  

Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) menyatakan diplomat muda ahli Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arya Daru Pangayunan alias ADP (39) mengalami burn out di masa akhir kehidupannya.Burn out merujuk pada kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh stres berkepanjangan.

Ketua Umum Apsifor Nathanael E. J. Sumampouw menyatakan Arya dikenal sebagai pribadi yang memiliki karakter positif, bertanggung jawab, sangat diandalkan, dan peduli terhadap lingkungan.Ia menjelaskan sebagai sosok yang selalu berusaha positif di lingkungan, Arya mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi negatif yang kuat, terutama dalam situasi tekanan tinggi.

"Tekanan dihayati secara mendalam sehingga mempengaruhi bagaimana almarhum memandang dirinya, memandang lingkungan, bagaimana almarhum memandang lingkungan, memandang masa depan," kata Nathanael dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Selasa (29/7).

Ia mengatakan ditemukan riwayat Arya berupaya mengakses layanan kesehatan mental secara daring pada 2021."Bahwa masa-masa akhir kehidupannya sebagai diplomat, almarhum bertugas melindungi WNI, pekerja kemanusiaan, memikul berbagai tanggung jawab menjalankan tugas profesional sekaligus peran humanistik sebagai pelindung, rescuer bagi WNI yang terjebak situasi krisis," ujarnya.

Menurutnya, peran yang diemban Arya menuntut empati yang tinggi, kepekaan emosional yang dalam, ketahanan psikologis dan sensitivitas sosial"Ini menimbulkan dampak seperti burnout, fatigue, kelelahan kepedulian. Dinamika psikologis itu kami temukan di masa akhir kehidupannya," ujarnya.

Pemeriksaan yang dilakukan RSUPN Cipto Mangunkusumo sebelumnya menyatakan Arya meninggal dunia karena gangguan pertukaran oksigen.Dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Yoga Tohijiwa mengatakan dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan zat yang dapat menyebabkan gangguan pertukaran oksigen.Selain itu, tidak ditemukan penyakit atau zat yang dapat menyebabkan gangguan pertukaran oksigen pada organ atau jaringan tubuh ADP."Maka sebab mati almarhum akibat gangguan pertukaran oksigen pada saluran nafas atas yang menyebabkan mati lemas," katanya..

            Sekadar informasi, kasus ini terungkap pada Selasa (8/7/2025). Kala itu, warga setempat melaporkan temuan jasad dengan kepala dibungkus lakban ke kepolisian di kawasan indekos, Menteng, Jakarta. Adapun, jenazah Arya ditemukan dengan posisi terlentang di atas kasur indekosnya dengan tubuh yang tertutup selimut biru. Arya juga nampak mengenakan kaos dan celana pendek.

Kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti   di antaranya lakban kuning, isi sampah kantong plastik, handphone samsung notes 9, DVR merk HK vision, laptop merk Dell warna hitam, dan macbook air warna silver. Kemudian sebuah buku berjudul Diplomat Pertama: ”Sebuah Pencapaian-Cita-cita.”Selain itu, pakaian menyerupai celana, flashdisk 4 buah, satu Secure Digital (SD) Card Vgen, boks cokelat, foaming wash/sun block/alat kontrasepsi, akses kamar, CCTV dan akses gerbang kostan. (BERBAGAI SUMBER)****

Post a Comment

0 Comments