Anton Charliyan : “Jika Sukses Festival Seni Budaya di Goa Sunyaragi Cirebon Akan Jadi Agenda Tahunan Pemda, Mari Kita Dukung Bersama”


Cirebon LHI

Dalam menyikapi terjadinya pro dan kontra tentang penyelengaraan  Festival Seni dan Budaya yang akan diadakan di Goa Sunyaragi Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, rupanya menarik perhatian mantan Kapolda Jabar Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan,MPKN  sebagai tokoh budaya & pengamat sejarah dari Jabar ,

            Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan  bersama Ketua Projo Jabar Joni Hidayat , Ketua Laskar Siliwangi Cirebon Silvi P , serta Sekjen Lintas Budaya Nusantara Sengaja mengunjungi Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Panglima Tinggi Lasykar Agung Macan Ali Prabu Diaz dan beberapa kerabat Keraton Kasepuhan lainya. Untuk mengecek dan  memastikan tentang kebenaran berita tsb , serta beredarnya berita bahwa Goa sunyaragi ditutup dan disegel. langsung kepada sumber utamanya di Keraton Kasepuhan Cirebon.

            “ Secara pribadi, pertama tama saya turut prihatin dengan adanya masalah internal di Keraton Kasepuhan. Namun saya yakin bahwa masalah tsb bisa diselesaikan dengan baik dan bijak oleh pihak keluarga keraton sendiri, karena keluarga keraton merupakan  panutan masyarakat yang sangat dihormati  sebagai keturunan langsung dari Kangjeng Sunan Gunung Djati. Bila tidak bisa menyelesaikan masalah internal tsb justru akan berdampak pada  marwah, wibawa dan kehormatan keluarga keraton itu sendiri. “ungkapnya kepada awak media hari Minggu (14/11/2021)

Kemudian selanjutnya untuk Masalah Pagelaran seni dan Budaya itu sendiri yang kebetulan dilaksanakan di salah satu komplek keraton yakni Gua Sunyaragi, mantan Kadiv Humas Polri tsb mengatakan, bahwa dirinya sebagai   penggiat seni & budaya akan mendukung penuh siapapun juga manusianya yang ingin memajukan seni dan budaya, dan berharap tidak dikait-kaitkan dengan masalah internal keraton. Karena pihak penyelengaranyapun bukan pihak keraton yaitu Yayasan Media Budaya Nusantara sebagai salah satu komunitas penggiat budaya, sementara fihak keraton sesungguhnya  hanya memfasilitasi tempat saja, dari 300 tamu undangan kehormatan 20 sd 30 diharapkan  hadir para raja dan Sultan, sehingga tempat yg paling cocok adalah komplek keraton. Karena mengundang Raja dan Sultan. Selebihnya adalah tamu undangan dari  perusahaan pengusaha travel, hotel , jasa transportasi , para duta besar negara2 tertentu dan pejabat terkait, 

“Terlebih festival ini salah satu misinya adalah untuk mengangkat seni dan tradisi ka-Cirebon-an serta ka-Sunda-an secara umum,  sehingga otomatis akan meningkatkan sektor pariwisata  pemda setempat, serta meningkatkan eksistensi keraton  secara nasional maupun international. Apalagi telah mendapat Respon positif dari Pemda Cirebon, yang menyatakan bila agenda festival seni ini sukses akan dijadikan agenda tahunan routin Pemda Cirebon. Karena itu, tidak ada Alasan lagi, ada pihak-pihak yang mengatasnamakan keraton, yang menyatakan tidak setuju, padahal kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya keraton sebagai centra adat tradisi, seni dan budaya berkewajiban paling depan untuk melestarikan seni dan budaya itu sendiri. Justru event ini  seyogyanya dijadikan moment untuk bisa menyatukan keluarga besar keraton baik Kasepuhan Kanoman maupun Kacirebonan . Demikian juga untuk pihak aparat terkait agar sama-sama bisa mendukung penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya ini, jangan malah terkesan ikut terbawa isue  dan mempersulit, padahal pemda dan Satgas Covid sudah memberikan izin rekomendasi untuk acara tsb .”papar  Abah Anton

Ketika dikonfirmasi kepada Patih Sepuh Pangeran Gumelar sebagai tokoh yang dituakan di keraton sekaligus pemegang kewenangan  sementara oprasional Goa Sunyaragi yang mewakili Keraton Kasepuhan. menyatakan bahwa masalah Gua Sunyaragi sudah tidak ada masalah lagi, dan sudah berjalan normal dibuka kembali seperti biasa, karena tempat tsb adalah objek wisata sekaligus situs budaya, “Hanya satu hari saja off karena ada peralihan managment . Jadi tidak benar jika ada yang mengatakan Goa Sunyaragi disegel atau tidak beroperasi, kemudian menyangkut akan dijadikan sebagai tempat Gelar Seni & Budaya, kami mengatakan sudah memberi izin penuh 3 hari kepada pihak panitya. Kan ini terbuka untuk umum, siapapun   boleh menggunakan tempat tsb , apalagi ini untuk kepentingan Seni dan Budaya  yang akan mengangkat marwah budaya dan kehormatan Cirebon  sudah pasti diizinkan. Bahkan kami ikut mensuport penuh. Justru jika ada yang mengatasnamakan Keluarga Keraton yang tidak mendukung , tolong agar datang kepada saya dengan baik-baik, jangan berbicara terus di media,  karena hal tsb tidak sesuai dengan adat tradisi keraton, yang mengutamakan musyawarah keterbukaan dan kekeluargaan. Tidak malah menjadikan image seolah-olah keraton itu, gaduh, keruh dan kisruh di hadapan publik. Hal tsb sangat memalukan  kami sebagai keluarga besar keraton. “paparnya

Dia melanjutkan, “Ibarat menepuk air di dulang, memercik muka sendiri. Karena sebagaimana dikatakan Abah Anton bahwa  Keluarga Keraton merupakan panutan, publik figur masyarakat, sehingga saya harap semua keluarga bisa bersikap lebih dewasa. Bahkan harus mampu menjadi contoh, bahwa keluarga besar keratonlah yang menjadi etalase dalam rangka membangun jiwa gotong royong sebagai  akar budaya bangsa, yang diwujudkan dalam bentuk  kerukunan ,  soliditas dan rasa kekeluargaan yang tinggi, jangan sampai malah sebaliknya, ketika berbicara keraton malah yang nyaring terdengar itu , perpecahan, kegaduhan dan carut marutnya saja.”tuturnya.

Selaras dengan pernyataan Patih Sepuh dan Abah Anton dari Ketua Projo Jabar, Ketua Laskar Siliwangi Cirebon, Panglima Lasykar Agung Macan Ali Cirebon , Sekjen Lintas Budaya Nusantara sepakat mendukung diadakanya Festival Seni dan Budaya di Goa Sunyaragi Cirebon.  “Dan masalah internal agar jangan dikaitkan dengan  gelar budaya tsb. “ujarnya

            Dalam pesan terakhirnya, Anton Charliyan menyampaikan mari kita jadikan keraton sebagai sentra pelestarian adat tradisi, seni dan budaya yg betul exist dan hidup, bukan hanya sekedar sebuah wacana belaka, sehingga akan senantiasa jadi pendukung utama dalam setiap event pentas seni dan budaya dimanapun berada, dan hal ini pasti bisa dilakukan . “Karena sekali lagi, keluarga besar keraton merupakan panutan, yang senantiasa menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat dalam bersikap, bertindak dan berprilaku. Terutama dalam rangka, membangun adat ,tradisi, seni dan budaya. Melestarikan etika dan sopan santun, yang mampu mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan,  kerukunan dan  kekeluargaan, serta jiwa militansi dan soliditas yang tidak mudah dipecah belah.”pungkasnya. (REDI MULYADI)***

 

 

Post a Comment

0 Comments