Tokoh Pejuang Buruh dan Wanita Dita Indah Sari Ternyata Asli Medan, Sumatera Utara


Medan – LHI

Tak kenal maka tak sayang, mungkin hal ini yang Dita Indah Sari ingin sampaikan kepada warga Kota Medan, Sumatera Utara ketika melakukan lawatan bersama timnya dari Kementerian Tenaga Kerja pada Jum'at, (18/09/2021) di LKP/LPK Mulki Vokasi Indonesia, lembaga pendidikan khusus Barista dan Barterder yang berlokasi di Kede Rakyat Kopi (Kedera) Jalan Rakyat No. 123 sambil menikmati rasa kopi Medan yang khas dan enak.

Uni Dita Sari, demikian beliau disapa, di Kedera bersua dengan CEO LKP/LPK Mulki Vokasi Indonesia, Luthfi Hutasuhut, S.Sos, M.M dan para penggiat, pelaku usaha pariwisata dan UMKM dari sejumlah asosiasi dalam pertemuan tertutup karena pandemi Covid-19, diantaranya perwakilan dari MASATA, PPHRI, AHLI, ASETI, Asosiasi UMKM Sumut yang diwakili Yan Djuna yang juga pengurus di PPWI DPD Sumut, Ketua DPD Sumut Ihsan dari Gada Millenial dan komunitas-komunitas seperti komunitas club motor yang diwakili Abeng Harahap, barista, kuliner, kecantikan, digital marketing, content creator, dan budaya.

Mengenal lebih dekat sosoknya yang rendah hati dan merakyat, Dita Indah Sari adalah politikus wanita Indonesia dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Saat ini, beliau menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah dan masih aktif sebagai aktivis dalam memperjuangkan nasib pekerja, buruh dan wanita.

Kota Medan sendiri bagi Dita Sari bukan kota yang asing sebab beliau lahir di Kota Medan pada 30 Desember 1972. Persoalan ketenagakerjaan, mengatasi pengangguran dan sertifikasi profesi menjadi tugas dan tanggung jawabnya dalam membantu tugas-tugas Menteri Tenaga Kerja di kabinet Indonesia Maju.

Mewakili suara rakyat di Kementerian Tenaga kerja Republik Indonesia dan memperjuangkan nasib pekerja dan buruh, juga upayanya selama ini. Membawa suatu perubahan di masyarakat terkhusus dalam hal menyangkut pelecehan seksual terhadap kaum wanita.

Pada September 2001, Dita Sari mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award. Di bulan Februari 2002 Dita Sari juga mendapat Reebok Human Rights Award, yang kemudian ditolaknya karena Reebok sebagai salah satu perusahaan sepatu besar yang tidak berpihak terhadap kesejahteraan kaum buruh.

Dita Sari juga tercatat sebagai salah seorang pendiri sebuah lembaga penelitian, yaitu Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), serta Senjata Kartini sebuah LSM yang bergerak di bidang perempuan.

Dalam pertemuan dengan kapasitas terbatas di Kedera Kopi lahir sejumlah solusi, gagasan dan ide-ide bagaimana mengatasi penggangguran yang dialami kaum millenial dan para korban PHK akibat pandemi Covid-19. Diantaranya, membekali kaum millenial dengan modal keahlian dan keterampilan kopi atau keterampilan lain seperti spa dan kewirausahaan. Memberikan tempat dan ruang kreatif untuk para komunitas berupa rumah millenial kreatif dimana UMKM dan keahlian nantinya dapat berjalan berdampingan serta akademi millenial Indonesia.

Di akhir pertemuan, Dita Sari menyampaikan akan kembali lagi ke Kota Medan dalam waktu dekat. Harapan nya keberadaannya di Sumatera Utara dan di Kota Medan khususnya dapat bermanfaat dan menjawab keluhan dan permasalahan ketenagakerjaan yang terjadi dan memberikan laporan kepada pemerintah.

Segala masukan dan temuan perihal ketenagakerjaan agar menjadi solusi terbaik bagi para korban PHK tidak hanya pekerja hotel dan restoran akibat pandemi Covid-19 tetapi juga yang lainnya. Dan juga bagi kaum millenial, dan wanita termasuk perihal agar bakat dan keahlian yang saat ini beragam yang tak lepas dari gadget dan digitalisasi tersalurkan untuk mencegah terjadinya kriminalitas dan mengatasi penggangguran. (NOPRI/PPWI LAMPURA).

 

Post a Comment

0 Comments