OKI, Sumsel, LHI
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat musim kemarau semakin memburuk dan menimbulkan kabut asap. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan masyarakat, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, diare, serta gangguan kesehatan lainnya.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru dan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus ketika paparan asap meningkat.
Direktur RSUD Kayuagung, dr. Tito Aristian, M.K.M., mengatakan paparan kabut asap dapat memicu maupun memperburuk sejumlah gangguan kesehatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit akibat partikel serta zat iritatif yang terkandung dalam asap.
“Ketika paparan asap meningkat, masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan, terutama kelompok rentan,” ujar dr. Tito.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, termasuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Khusus bagi anak-anak, masyarakat diminta memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Anak-anak diimbau tidak sembarangan membeli jajanan di luar rumah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Berdasarkan data kasus yang tercatat di RSUD Kayuagung selama Juli hingga September, terdapat empat kasus ISPA yang menjalani rawat inap.
Sementara itu, kasus demam berdarah dengue (DBD) mencapai 72 kasus, yang terdiri dari 52 kasus rawat inap dan 20 kasus rawat jalan.
Kasus diare tercatat sebanyak 218 kasus, dengan rincian 188 kasus rawat inap dan 30 kasus rawat jalan. Sedangkan kasus muntaber mencapai 26 kasus, terdiri dari 22 kasus rawat inap dan empat kasus rawat jalan.
Data tersebut menunjukkan masih tingginya beban pelayanan kesehatan di RSUD Kayuagung selama periode tersebut.
Paparan kabut asap sendiri tidak hanya berdampak terhadap sistem pernapasan. Partikel halus dan zat iritatif yang terdapat dalam asap juga dapat memicu iritasi pada mata dan kulit. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi paparan asap, terutama saat kualitas udara memburuk.
Pihak RSUD Kayuagung berharap kondisi lingkungan segera membaik seiring dengan terkendalinya kebakaran hutan dan lahan serta berakhirnya musim kemarau. Penurunan paparan polusi udara diharapkan dapat turut mengurangi risiko gangguan kesehatan di tengah masyarakat.
“Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas atau batuk yang muncul maupun memburuk setelah terpapar asap, segera konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat,” pungkas Tito. (Matys)


0 Comments