Bandung, LHI,
Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Program Pengabdian Masyarakat (Bottom up) Tahun 2026 melaksanakan kegiatan “Pengembangan Desain Sistem Ruang dan Furniture Berbasis Potensi Lokal untuk Penguatan Branding Produk dan Pengalaman Wisata bagi Lansia Berkelanjutan di Desa Songgon, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi”.
Ketua pelaksana G. Prasetyo Adhitama memaparkan, bahwasanya kegiatan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan Wisata bagi Lansia dan Lintas Generasi (WLLG) yang dirintis oleh Pemerintah Desa Songgon bersama masyarakat dan komunitas lokal.
Dasar hukum utama yang menjadi landasan Institut Teknologi Bandung (ITB) memiliki keharusan untuk menjalankan program pengabdian masyarakat adalah amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
Melalui integrasi regulasi ini, program pengabdian masyarakat di ITB bukan lagi sekadar aktivitas sukarela atau bantuan sosial karitatif (seperti pembagian sembako), melainkan sebuah kewajiban hukum ilmiah untuk menerapkan kepakaran sivitas akademika dalam menyelesaikan masalah nyata bangsa.
Landasan hukum secara internal ITB menguat kaitannya atas penerbitan regulasi melalui organ-organ siber institusinya diantaranya; Peraturan Majelis Wali Amanat (MWA) ITB Nomor 001/PER/I1-MWA/HK/2019 tentang Tri Dharma dan Otonomi Pengelolaan ITB PTN-BH, Kebijakan Dasar dan Norma Pengabdian kepada Masyarakat yang ditetapkan oleh Senat Akademik ITB (seperti SK No. 20/SK/K01-SA/2008), yang mewajibkan program pemberdayaan potensi masyarakat dijalankan dengan bobot nilai yang sama pentingnya dengan pendidikan dan penelitian, serta Peraturan Rektor ITB yang diperbarui secara berkala mengenai tata cara pelaksanaan, pengelolaan dana kerja sama, hingga standar tarif layanan SDM untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (misalnya Peraturan Rektor No. 9 Tahun 2026).
Fokus Tujuan Kegiatan
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengembangkan konsep desain sistem ruang serta furniture wisata yang ramah lansia dengan memanfaatkan potensi alam, budaya, material, dan produk lokal Desa Songgon. Desain dikembangkan dengan menerapkan prinsip universal design, ergonomi, keselamatan, aksesibilitas, orientasi, dan experiential design, sehingga fasilitas wisata dapat memberikan pengalaman yang aman, nyaman, mudah dipahami, sekaligus menarik bagi lansia dan pengguna lintas generasi.
Selain aspek fisik, kegiatan juga bertujuan memperkuat branding destinasi dan produk lokal melalui bahasa desain yang konsisten. Branding tidak hanya ditempatkan pada logo atau media promosi, tetapi diterjemahkan ke dalam karakter ruang, furniture, signage, display produk, material, warna, motif, aktivitas, dan storytelling. Dengan pendekatan tersebut, identitas Desa Songgon diharapkan dapat dirasakan secara langsung melalui pengalaman ruang dan aktivitas wisata.
Targetan Penerima Manfaat
Program mencatat 200 orang sebagai penerima manfaat, dengan kelompok sasaran yang meliputi lansia sebagai pengguna utama fasilitas, pengrajin dan pelaku UMKM, pengelola kawasan wisata, komunitas desa, serta Pemerintah Desa Songgon sebagai mitra pengembangan. Mitra utama kegiatan adalah Pokmas Guloan Bersatu dalam konteks kemitraan dengan Pemerintah Desa Songgon.
Melalui keterlibatan berbagai kelompok tersebut, kegiatan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan desain fasilitas, tetapi juga membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya desain ramah lansia, pemanfaatan potensi lokal, pengembangan produk, serta keterkaitan antara ruang, masyarakat, dan pengalaman wisata.
Metode Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif, dan berbasis pembelajaran masyarakat, dengan menempatkan masyarakat dan lansia sebagai subjek dalam proses perancangan. Tahapan kegiatan meliputi persiapan dan koordinasi, studi awal dan pemetaan potensi, wawancara dan FGD, perumusan konsep, pengembangan alternatif desain, evaluasi, dokumentasi, dan diseminasi.
Metode pemetaan dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, FGD, dokumentasi foto/video, dan visualisasi 3D. Temuan lapangan kemudian diterjemahkan menjadi kriteria desain dan dikembangkan secara iteratif. Rangkaian kegiatan juga mencakup audiensi dengan BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi untuk membahas prospek wisata lansia dan keterkaitannya dengan pengembangan pariwisata daerah, serta pertemuan dengan Pokmas Guloan Bersatu dan masyarakat Desa Songgon untuk menggali potensi, kebutuhan, aspirasi, dan peluang pemberdayaan masyarakat.
Hasil Kegiatan
Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya kriteria dan konsep desain ruang serta furniture ramah lansia yang mempertimbangkan aksesibilitas, ergonomi, orientasi, titik istirahat, interaksi sosial, pemandangan, dan identitas lokal. Furniture dikembangkan sebagai bagian dari suatu sistem, meliputi bangku istirahat, meja komunal, furniture display, dan signage dengan perhatian pada stabilitas, kemudahan produksi, material lokal, serta konsistensi identitas. Pengembangan furniture tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan HKI Desain Industri.
Konsep desain ruang mengintegrasikan area kedatangan, orientasi, sirkulasi, istirahat, interaksi, menikmati alam, kuliner, dan display produk. Sistem signage dan elemen visual dirancang konsisten, dengan memanfaatkan kekayaan alam, budaya, dan produk Desa Songgon.
Secara keseluruhan, kegiatan menghasilkan konsep sistem ruang dan furniture ramah lansia, pengembangan sistem desain furniture dan ruang, serta arah integrasi produk lokal dengan pengalaman wisata. Proses ini menempatkan desain sebagai media yang menghubungkan kebutuhan lansia, identitas lokal, produk masyarakat, pengalaman wisata, dan pemberdayaan komunitas. Keberlanjutan program diharapkan terjadi melalui melalui pendampingan implementasi, penyusunan panduan desain, uji penggunaan bersama lansia, serta peluang penerapan dan replikasi prinsip desain pada fasilitas wisata lainnya di Kabupaten Banyuwangi. (Eky AS-jbr)





0 Comments