OKI, Sumsel, LHI
Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Kesehatan Hewan (UPTD Puskeswan) Kecamatan Kayuagung bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait kondisi sejumlah kambing milik peternak yang mengalami gangguan kesehatan.
Laporan tersebut diterima petugas pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim medis hewan UPTD Puskeswan Kayuagung yang terdiri dari drh. H. Wahyuni Azahri bersama petugas melakukan pemeriksaan langsung terhadap sejumlah kambing di lokasi peternakan
Dari hasil pemeriksaan klinis, petugas menemukan adanya gejala yang mengarah pada Pink Eye (konjungtivitis) serta Orf atau Contagious Ecthyma (ektima menular) pada beberapa ekor kambing.
Penanganan langsung dilakukan sebagai langkah awal untuk membantu mempercepat pemulihan ternak sekaligus mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit kepada hewan lain yang masih sehat.
Pink Eye, Penyakit Mata yang Mudah Menular
Pink Eye atau konjungtivitis merupakan salah satu gangguan kesehatan mata yang dapat menyerang kambing dan domba. Kondisi ini ditandai dengan peradangan pada bagian mata dan dalam sejumlah kasus dapat berkaitan dengan infeksi bakteri, termasuk Moraxella ovis.
Penyakit tersebut dapat lebih mudah muncul ketika kondisi lingkungan mengalami perubahan, termasuk pada masa pancaroba, terlebih apabila daya tahan tubuh ternak menurun.
Secara klinis, ternak yang mengalami Pink Eye dapat menunjukkan sejumlah gejala, seperti mata berair, keluarnya kotoran atau belekan, bagian konjungtiva mata tampak merah dan bengkak, kornea terlihat keruh, sensitif terhadap cahaya, hingga mengalami penurunan nafsu makan.
Karena dapat menular antar ternak, peternak perlu memperhatikan kondisi setiap hewan dan segera memisahkan ternak yang menunjukkan gejala dari kelompok yang sehat.
Orf, Penyakit Kulit Menular dan Berpotensi Menular ke Manusia
Selain gangguan pada mata, petugas juga menemukan indikasi Orf atau Contagious Ecthyma, yakni penyakit kulit menular yang disebabkan oleh kelompok virus Parapoxvirus.Pada kambing, Orf umumnya ditandai dengan munculnya bintil, lepuh hingga keropeng tebal di sekitar bibir, mulut dan hidung. Lesi juga dapat ditemukan pada bagian tubuh lain, termasuk ambing pada ternak betina.
Penyakit ini patut menjadi perhatian karena Orf bersifat zoonosis, sehingga manusia yang melakukan kontak langsung dengan hewan terinfeksi maupun lesi pada kulit ternak juga perlu menerapkan langkah perlindungan dan kebersihan yang baik.
Petugas Lakukan Penanganan dan Pemberian Vitamin
Sebagai bagian dari penanganan awal, petugas Puskeswan melakukan tindakan medis terhadap ternak yang menunjukkan gejala penyakit, termasuk penyuntikan dan pemberian vitamin.
Terapi terhadap ternak disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing hewan. Dalam penanganan kasus tertentu, dokter hewan dapat mempertimbangkan pemberian obat sesuai indikasi, termasuk antibiotik untuk infeksi bakteri sekunder, antiinflamasi, serta dukungan vitamin.
Peternak juga diingatkan agar tidak melakukan pengobatan secara sembarangan tanpa berkonsultasi dengan petugas kesehatan hewan.
Kebersihan Kandang dan Pemisahan Ternak Jadi Kunci
Petugas Puskeswan mengimbau peternak meningkatkan biosekuriti sederhana di lingkungan kandang. Langkah tersebut antara lain dengan segera memisahkan kambing yang sakit dari ternak sehat, menjaga kebersihan kandang, memastikan pakan dan air minum tercukupi, serta menghindari kondisi yang dapat menyebabkan ternak mengalami stres.
Pemberian pakan bergizi dan seimbang juga penting untuk membantu mempertahankan kondisi tubuh dan daya tahan ternak.
Selain itu, program kesehatan ternak perlu dilakukan secara berkala, termasuk pengendalian parasit dan pemberian obat cacing berdasarkan kebutuhan serta anjuran tenaga kesehatan hewan.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting karena penyakit pada satu ekor ternak berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih luas apabila tidak segera ditangani, khususnya pada peternakan dengan populasi kambing yang dipelihara dalam satu lingkungan.
Peternak Diminta Waspadai Gejala PMK
Dalam kunjungan tersebut, petugas juga memberikan edukasi kepada pemilik ternak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit hewan menular, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Peternak diminta segera melapor kepada petugas Puskeswan apabila menemukan hewan dengan gejala yang mencurigakan, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
“Kami juga memberikan penjelasan kepada para peternak terkait gejala PMK pada hewan ternak. Apabila ditemukan tanda-tanda penyakit tersebut, pemilik ternak agar segera melapor kepada petugas,” ujar petugas kesehatan hewan.
Disbunnak OKI melalui jaringan Puskeswan diharapkan terus memperkuat pemantauan kesehatan hewan di tingkat peternak. Respons cepat terhadap laporan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah penyakit berkembang dan menyebar ke populasi ternak lainnya.
Bagi peternak, kewaspadaan tidak hanya diperlukan ketika ternak sudah sakit. Pemeriksaan berkala, kebersihan kandang, pengelolaan ternak yang baik, pemberian pakan berkualitas, pengendalian parasit, serta pelaporan dini ketika muncul gejala penyakit merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan ternak sekaligus melindungi keberlangsungan usaha peternakan masyarakat. (MATYS)


0 Comments