Kota Banjar. LHI
Maraknya praktik pinjaman online (pinjol) dan kredit keliling yang dikenal dengan istilah Bang Emok menjadi perhatian serius masyarakat dalam kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Ika Siti Rahmatika. Kegiatan Reses III Tahun Sidang 2025–2026 tersebut digelar di Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan itu dihadiri tokoh masyarakat, kader partai, aktivis lingkungan, dan warga setempat. Forum reses dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi secara langsung kepada wakil rakyat.
Dalam dialog yang berlangsung terbuka, sejumlah warga mengungkapkan kekhawatiran terhadap semakin banyaknya masyarakat yang terjerat pinjaman berbunga tinggi. Selain pinjaman online, praktik kredit keliling atau Bang Emok dinilai semakin membebani kondisi ekonomi keluarga.
Menurut warga, keberadaan pinjol dan Bang Emok telah memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Tidak hanya menambah beban keuangan rumah tangga, kondisi tersebut juga berpotensi memicu berbagai persoalan sosial akibat ketidakmampuan peminjam memenuhi kewajibannya.
Selain persoalan utang berbunga tinggi, masyarakat turut menyampaikan aspirasi terkait pembangunan infrastruktur lingkungan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, sektor pendidikan, hingga penguatan pelaku usaha mikro dan kecil. Warga menilai pemberdayaan ekonomi masyarakat perlu diperkuat agar ketergantungan terhadap pinjaman berbunga tinggi dapat diminimalkan.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Ika Siti Rahmatika menegaskan bahwa kegiatan reses merupakan bagian penting dari tugas anggota legislatif untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
“Reses menjadi kesempatan bagi kami untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat. Semua aspirasi yang disampaikan akan kami catat dan perjuangkan sesuai kewenangan yang ada,” ujarnya.
Menurut Ika, persoalan pinjol dan Bang Emok tidak dapat dipandang semata-mata sebagai masalah utang-piutang. Fenomena tersebut, katanya, berkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat yang masih membutuhkan perhatian dan dukungan berbagai pihak.
Ia menjelaskan bahwa penanganan persoalan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan literasi keuangan hingga penguatan sektor ekonomi produktif masyarakat. Akses terhadap permodalan yang sehat dan mudah dijangkau juga menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak terjebak pada pinjaman dengan bunga tinggi.
“Persoalan pinjol dan Bang Emok ini tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah utang-piutang semata, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat. Karena itu, pemberdayaan ekonomi, pelatihan usaha, akses permodalan yang sehat, serta peningkatan literasi keuangan harus menjadi perhatian bersama agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih baik untuk meningkatkan kesejahteraannya,” katanya.
Ika menambahkan, banyak ibu rumah tangga yang terpaksa meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa penguatan ekonomi keluarga harus menjadi salah satu prioritas pembangunan.
“Banyak ibu rumah tangga yang terpaksa meminjam karena kebutuhan sehari-hari. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa penguatan ekonomi keluarga harus menjadi prioritas. Jika masyarakat memiliki usaha yang produktif dan akses modal yang sehat, ketergantungan terhadap pinjol maupun Bang Emok bisa berkurang,” tuturnya.
Kegiatan reses berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh antusiasme.Warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai usulan.
Harapan, dan keluhan yang selama ini mereka hadapi. Melalui reses tersebut, aspirasi masyarakat diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran dan berpihak kepada kepentingan rakyat.(ADE ARIS)***



0 Comments