PAN Jabar

PAN Jabar
Marhaban Ya Ramadhan

Aktivis PMII Pangandaran Soroti Kematian 2 Calon Manajer SPPI: ”Evaluasi Fundamental Lebih Penting dari Evaluasi Teknis”

 


 


Pangandaran LHI

Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Pangandaran menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia SPPI, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, saat mengikuti Latihan Dasar Militer Latsarmil calon manajer Koperasi Desa Merah Putih KDKMP dan Kampung Nelayan Merah Putih KNMP. (25 Juni 2026)

Menanggapi peristiwa tersebut, Aktivis PMII Pangandaran Predi Supriadi menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi titik kritis evaluasi pemerintah, bukan sekadar perbaikan administratif.

Ironi “Surat Keterangan Sehat” vs Kematian Akibat Kesehatan 

Kami mencatat adanya kontradiksi serius. Kemenhan menyatakan kedua almarhum telah lulus seleksi kesehatan dan dinyatakan memenuhi syarat. Namun penyebab kematian justru heat stroke dan cardiac arrest. Kondisi ini melahirkan pertanyaan fundamental: bagaimana mekanisme medical check-up dilaksanakan? Apakah standar “sehat” yang digunakan hanya bersifat administratif, bukan prediktif terhadap beban fisik Latsarmil 45 hari? Negara tidak boleh abai. “Lulus sehat” harusnya bermakna aman menjalani, bukan sekadar lolos berkas.

Evaluasi Harus Menyentuh Landasan Filosofis, Bukan Hanya Teknis.

Kami apresiasi langkah Kemenhan yang akan mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, dan sistem pelaporan. Namun evaluasi tidak boleh berhenti di level teknis. Yang lebih krusial adalah memperjelas dasar pemikiran dan landasan kebijakan: mengapa pendidikan militer diwajibkan bagi calon manajer koperasi desa? Jika merujuk Tupoksi manajer KDKMP/KNMP ke depan yang berfokus pada tata kelola usaha, keuangan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat, maka korelasi substansial antara kemampuan manajerial koperasi dengan materi militer masih perlu dijelaskan secara akademik. Jangan sampai semangat “disiplin” mengaburkan relevansi kompetensi yang dibutuhkan di lapangan.

KDKMP Terancam Jadi “Monumen Kosong” Tanpa Arah Implementasi 

Di tengah duka ini, kami juga menyoroti keberlangsungan program KDKMP secara makro. Hingga hari ini, orientasi implementasi KDKMP di lapangan masih kabur. Banyak KDKMP yang secara fisik hanya berwujud bangunan kosong tanpa kegiatan usaha riil, tanpa neraca, tanpa anggota aktif. Jika calon manajer sudah ditempa 45 hari secara militer, tapi koperasi yang akan dikelolanya belum memiliki blueprint usaha yang jelas, maka ada risiko besar: kita mencetak manajer disiplin, tapi tanpa arah gerak ekonomi. Negara harus menjawab: mau dibawa ke mana KDKMP ini?

PMII sebagai organisasi kader yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, disiplin, dan pengabdian. Kami mendukung penuh upaya penguatan SDM desa. Namun penguatan itu harus berangkat dari prinsip keselamatan, relevansi, dan akuntabilitas. Keselamatan 35.476 peserta lainnya adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.

Audit independen terhadap standar dan praktik medical check-up peserta SPPI.  Forum terbuka yang melibatkan akademisi, praktisi koperasi, dan mahasiswa untuk menguji ulang urgensi kurikulum militer bagi manajer KDKMP.  Transparansi roadmap implementasi KDKMP agar tidak berhenti sebagai proyek fisik tanpa ruh ekonomi.

“Almarhum Anisa dan Yonanda gugur sebagai bagian dari pengabdian. Tugas kita memastikan pengabdian mereka tidak sia-sia, dengan membenahi sistem agar peserta berikutnya pulang membawa ilmu, bukan peti. (AS) **

 

Post a Comment

0 Comments