PAN Jabar

PAN Jabar
Marhaban Ya Ramadhan

Sadis dan Kejam, Berto: Ternyata Korban Kebrutalan Premanisme di Sungai Akar Bukan Hanya Keluarga Maskurniawan Mendrofa


 


INDRAGIRI HULU
- Kasus dugaan premanisme dan kekerasan yang menimpa keluarga Maskurniawan Mendrofa memang menyisakan luka mendalam sekaligus tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Ketika sebuah peristiwa kekerasan terjadi secara brutal namun belum sepenuhnya terungkap motif atau dalang di baliknya, wajar jika muncul berbagai spekulasi.

Berdasarkan hasil investigasi dan inventarisir yang dilakukan Berto Tumpal Harianja selaku Penasehat Hukum (PH) para korban (keluarga Maskurniawan Mendrofa) kepada korban lainnya yaitu Nurma Malango yang menyampaikan, Goklas Aritonang secara terang benderang disaat kejadian menyuruh serbu dan bakar.

Menurut Berto, setelah sebelumnya mengungkap kebrutalan premanisme terhadap keluarga Maskurniawan Mendrofa, namun ternyata masih menyimpan misteri.

"Ibu Nurma juga mengalami pemukulan yang diduga dilakukan oleh Goklas Aritonang menggunakan bambu dan mengenai bahu kanan ibu Nurma. Ibu Nurma yang sudah berusia 59 Tahun itu harus melompat keparit yang dalamnya kurang lebih 10 meter untuk menghindari pukulan Goklas Aritonang dan situasi yang mengcekam," ucap Berto dalam keterangan persnya, Senin (23/03/26).

Saat melompat, sambung Berto, Nurma diketahui kehilangan handphone dan uang serta apa yang terjadi sudah disampaikan kepada Polres Inhu."Kendaraan roda dua (motor) Ibu Nurma diambil komplotan tersebut, dan diduga motor Ibu Nurma saat ini digunakan jadi motor operasional di salah satu perusahaan,"ungkap Berto.

Menurut Berto, mereka sudah seperti komplotan perampok yang merasa kebal hukum karena ada backingan. Bagaimana tidak seperti itu karena satu motor korban lain sebut saja siringo-ringo terang-terangan dibakar oleh komplotan preman itu, dan kurang lebih 5 unit motor masyarakat dibawa komplotan tersebut. Namun anehnya mereka gunakan motor tersebut untuk melakukan aktivitas di salah satu perusahaan.

"Para korban berharap kepada Bapak Presiden dan Bapak Kapolri agar memperhatikan apa yang mereka alami, salah satunya seperti Ibu Nurma. Dia (Ibu Nurma) tidak tahu apa salahnya sehingga dipukul begitu biadap, dan saat ini pelaku yang memukul ibu Nurma belum juga ditahan ataupun masih berkeliaran menghirup udara segar," kata Berto.

Berto berjanji akan mengawal dan mengusut tuntas terkait kasus ini, terutama otak intelektualnya atau yang menyuruh melakukan. Karena menurut Berto, tidak mungkin mereka bisa berkumpul puluhan orang tanpa perintah, yang sampai saat ini juga belum diungkap.

Perbuatan melawan hukum yang telah mereka lakukan tersebut tentunya tidak bisa selesai dengan hanya menahan 4 orang saja, pelaku lain dan otak dibalik peristiwa ini juga harus diungkap.

"Kalau Polres Indragiri Hulu tidak mampu mengungkapnya maka Kapolres diganti saja. Saya rasa ini tidak bisa dipandang biasa harus diusut sampai ke akar-akarnya, saya yakin dan percaya Bapak Kapolri tidak menyediakan ruang bagi pelaku kejahatan," tutup Berto. (****)

Post a Comment

0 Comments