Pada Peresmian Paguyuban Maenpo Nusantara, Anton Charliyan Tegaskan, Pencak Silat Menjadi Kebanggaan Indonesia Diakui Dunia


Bandung, LHI

Perwakilan- perwakilan Perguruan Maenpo yang tersebar di Jawa Barat, Banten dan Jawa Timur berkumpul untuk menggelar acara   silaturahmi dan pembentukan kepengurusan, bertempat di rumah mantan Kapolda Jabar Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan,MPKN Jl. Parakan Asri No. 8 Batununggal Bandung, hari Senin (01/11/2021). Pada kesempatan itu turut hadir Didin As Suhana (Kang Alit – KWRI UNESCO Paris) secara daring dan para peserta yang hadir di tempat telah mendapatkan vaksinasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Dalam kata sambutannya, Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan menyampaikan, dalam kesempatan tersebut, disepakati untuk membentuk suatu wadah paguyuban yang dapat menjadi jembatan untuk mempersatukan Perguruan/Paguron Maenpo di Nusantara. “Selain sebagai wadah silaturahmi juga bersama-sama bertekad untuk memperjuangkan beladiri Maenpo sebagai Warisan Budaya tak Benda ke Badan Dunia PBB – UNESCO.Pada hari itu juga dengan semangat memperjuangkan Warisan Budaya di bentuklah kepengurusan Paguyuban MAENPO NUSANTARA”, jelas mantan Kadiv Humas Polri ini.

            Dalam kegiatan tersebut terbentuk Kepengurusan Paguyuban dengan susunan kepengurusan diantaranya : Dewan Pembina : Irjen. Pol. (P) Dr. Drs. H. Anton Charliyan , MPKN. (Abah Anton), Didin As. Suhana (Kang Alit – KWRI UNESCO PARIS), Prof.Ir. Aman Wirakartakusuma, M.Sc.,Ph.D dan Mamat Mansyur; Sesepuh : Ir. H. Deden Hidayat, Drs. Rd. H. Sanny Wijaya Natakusuma, S.H.,

Secara Aklamasi dalam pertemuan ini, mandat sebagai Ketua Umum Paguyuban Maenpo Nusantara di serahkan kepada : Cakra, Ketua I : Asep Dadan S, Ketua II : Jon Maulana Sidik, Ketua III : Jahrul Mustofa, Ketua IV : Anjar Nugraha, ST.MM.,Sekertaris Jendral : Dandi Supriadi, S.Pd.I, Sekertaris I : Ipin Arifin, S.Sos, Bendahara Umum : Rd.H. Dicky Z. Sastradikusumah, S.E, dan Bendahara I : Abu Fatih Aditya

Sementara itu, Kang Alit dari KWRI UNESCO PARIS mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME, bahwa sudah terbentuk , se-ikatan (sabeungkeutan), dan semoga bermanfaat untuk NUSA dan BANGSA. “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu catangna”, ungkapnya.

Artinya: Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini, bila tak ada masa silam takan ada masa kini. Ada tunggak tentu ada batang, bila tak ada tunggak tak akan ada batang, bila ada tunggulnya tentu ada batangnya, terang Kang Alit.

Ketua Umum terpilih Cakra mengatakan bahwa sudah saatnya Perguruan-perguruan Maenpo yang tersebar di Nusantara ini bersatu, bersama-sama memperjuangkan aset Warisan BUDAYA hingga mendapatkan pengakuan di badan Dunia PBB – UNESCO, ucapnya.“Saat ini kebanggaan terhadap nilai – nilai BUDAYA mulai luntur di generasi muda. Maenpo bukan hanya sekedar aspek beladiri, lebih jauh terdapat unsur – unsur filosofi. Pembentukan karakter, dapat di gunakan dalam berbagai aspek kehidupan masa kini. BUDAYA merupakan entitas suatu BANGSA, jika hilang BUDAYA nya, maka hilanglah BANGSA nya, dan dipastikan akan hilang juga NEGARA nya”, tandas Cakra

.Dicky Z Sastrakusumah menambahkan, bahwa keberadaan seni beladiri atau maenpo diakui dunia melalui Lembaga Unesco tak lepas dari jasa Kang Alit (Didin As. Suhana) yang merupakan teureuh (turunan) Sukapura yang menjadi Perwakilan Indonesia di Unesco PBB di Paris Perancis. “Karena tangan dingin beliaulah yang menjadikan pencak silat sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia,sekarang bersama pengurus Perkumpulan Maenpo Nusantara berusaha untuk menjadikan maenpo mengikuti jejak pencak silat di Unesco PBB,”pungkasnya. (REDI MULYADI)***

 

 

Post a Comment

0 Comments