Menjelang Musim Tanam Padi, Pemkab Pangandaran Adakan Rapat Koordinasi Dan Evaluasi Ketersediaan Pupuk Bersubsidi

 



Pangandaran LHI

Pemkab pangandaran adakan rapat koordinasi bersama dan evaluasi ketersediaan pupuk bersubsidi menjelang musim tanam padi Oktober tahun 2021.

Setelah beberapa waktu lalu fokus pada penanganan pandemi covid-19 kini Pemkab Pangandaran sedang okus pada persiapan menghadapi masa tanam Oktober 2021, dan ini tentunya selaras dengan visi-misi Kabupaten Pangandaran khususnya pada sektor pertanian, seperti peningkatan pertahanan ekonomi dan sosial yang berkeadilan berbasis potensi lokal sebagai upaya pemulihan perekonomian pasca Pandemi

Di depan peserta raker yang dihadiri Dinas Pertanian, BJB, Bulog, distributor pupuk serta seluruh kepala desa bertempat di hotel Krisna, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menyampaikan, sesuai 4 visi-misi Pangandaran, salah satunya peningkatan pertahanan ekonomi dan sosial yang berkeadilan berbasis potensi lokal, hasil pertanian padi ini sangat luar biasa. Kebutuhan saat ini sekitar 425 ribu ton padi dan petani Pangandaran hanya bisa produksi sekitar 30 persen saja.

“Sehingga di sini petani kita ada persoalan, nah persoalan makro di petani kita adalah satu kelangkaan pupuk, “kata bupati.(2/11)

Selain hal tersebut, imbuh bupati saat pasca panen, karena sistim panennya serentak maka harga gabah akan jatuh.“Kita punya 319 kelompok tani di dan lahan seluas 16, 727 ribu hektar yang terhampar di 10 kecamatan, dan tentu ini merupakan potensi dari sektor pertanian kita khususnyatanaman padi, “kata bupati.

Semantara menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Sutriaman,saat ini petani membutuhkan pupuk urea sekitar 3467 ton untuk NPK dari petro kimia gresik 5415 ton.

Dalam persiapan musim tanam padi dan kesiapan menghadapi musim hujan tahun 2021-2022, Sutriaman menjelaskan,  petani perlu memperhatikan tanaman khususnya padi sawah dapat berhasil secara optimal. Berbagai variabel yang berpengaruh terhadap kegiatan usaha tani padi tersebut antara lain, keragaan produksi musim sebelumnya (MT Okt 2020-Mar 2021 dan MT Apr-Sep 2021), prakiraan cuaca/Iklim, prakiraan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), ketersediaan dan daya dukung prasarana dan sarana pertanian lainnya yang meliputi kelembagaan petani, Kartu Tani, Alokasi Kuota dan Pendistribusian Pupuk,E-RDKK, ketersedian Alsintan - Ketersedian Jaringan Irigasi, UPPO, dan Jalan Usaha Tani, Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).Sutriaman juga merinci uas tambah tanam komoditas padiyang ada di Kabupaten Pangandaran

Sutriaman mengatakan, ssekarang pihanya sedang berupaya untuk mengantisipasi kekurangan Pupuk khususnya jenis NPK ke pengelola pupuk bersubsidi ke Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.“Usulannya sudah kami sampaikan tapi belum ada jawaban menunggu kebijakan pembahasan realokasi antar kabupaten atau kebijakan penambahan kuota dari pusat, “terang Sutriaman.

Selain itu Dinas pertanian Pangandaran juga sedang memaksimalkan sisa ketersediaan pupuk yang ada dengan cara melakukan pemantauan penyaluran dan akan melakukan tindakan realokasi kuota antar kecamatan jika diperlukan, mengupayakan program bantuan alternatif sumber pemupukan lainnya bagi tanaman, diantaranya dengan mengakses program bantuan Peningkatan Indek Pertanaman yang ada di Dirjen PSP, dan pada bulan Oktober 2021 baru terealisasi bantuan berupa Pupuk Hayati Cair sejumlah 20.000 liter untuk cakupan luasan 5.000 Ha sawah yang berada dalam garapan.

“Kami juga memaksimalkan sisa ketersediaan pupuk yang ada dengan cara melakukan pemantauan penyaluran dan akan melakukan tindakan realokasi kuota antar kecamatan jika diperlukan, “jelas Striaman lagi.

Sutriaman menyebut, serangan OPT yang dominan menyerang tanaman di musim hujan adalah BLB, Penggerek Batang, dan Blas, kemungkinan pola serangan terulang di MH 2021/2022. Ketiga jenis OPT tersebut dapat menyerang pada setiap fase tanaman (vegetatif dan generatif) sehingga langkah pengamatan terhadap serangan OPT tersebut harus dilakukan sejak awal pertanaman bahkan dianjurkan petani untuk melakukan langkah pencegahan dari mulai pemilihan dan perlakuan benih sebelum disemaikan. Untuk itu perlu diintensifkan gerakan pendampingan dan transfer pengetahuan kepada petani oleh petugas penyuluh pertanian dan POPT sedini mungkin

Berdasarkan tampilan data satu tahun (2 MT), serangan OPT masih bersifat sporadis, namun jika diperbandingkan antar kecamatan intensitas total serangan OPT yang cukup tinggi terjadi di 5 kecamatan yaitu Kecamatan Padaherang, Cimerak, Mangunjaya, Cigugur dan Langkaplancar.

“Untuk itu kita perlu upaya pengamatan, pencegahan dan pengendalian yang lebih intensif di lima kecamatan tersebut tanpa mengabaikan lima kecamatan, “pungkasnya. (AS)*

Post a Comment

0 Comments