Anton Charliyan: Jangan Lagi Ulama dan Agama di Goreng untuk Menjatuhkan Negara


Bandung, LHI

Mantan Kapolda Jabar Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan,MPKN mengaku prihatin atas peristiwa Kepala Desa (Kades) Cimuncang, Kecamatan Malausma Kab.Majalengka viral di media sosial. Di depan umum, kepala desa bernama H.Engkus itu memaki seorang penceramah, Kyai Emo Abdul Basith yang sedang acara ceramah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam video yang berdurasi 26 detik itu, terlihat seorang pria yang diduga kepala desa yang memarahi kiai yang berada di atas panggung. Namun  kurang jelas terdengar apa yang dibicarakan, sehingga menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat . Versi pertama, ustadz dalam ceramahnya terkesan menghasut, dan versi kedua karena Kades Cimuncang merasa tersinggung dengan isi ceramah yang disampaikan oleh Kyai Emo Abddul Basith. Terlebih acara ceramah tersebut diadakan oleh lawan politik Kades Cimuncang yang bertarung di Pilkades beberapa waktu lalu.

Saya sangat prihatin dengan kejadian tsb dan apabila benar ada seorang pemuka agama baik itu ustadz , kiayi,  ulama, pastur, rahib atau siapapun juga , yang ceramah didepan umum menebar kebencian, menghasut dan menjelek-jelekan negara dan pimpinan negara wajib ditegur dan diturunkan dari mimbar , serta langsung diusut secara hokum tanpa kecuali.. “ujar Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan.

Namun sayangnya dalam peristiwa di Majalengka tadi tidak jelas, kata Anton Charliyan, apakah benar Kyai Emo Abddul Basith menghasut dan menebar kebencian ???.  Ini perlu penyelidikan dan bukti bukti yang kongkrit... , lalu apakah betul juga lurah/ Kades H Engkus cium tangan sehubungan dengan peristiwa tersebut ?? Serta kapan tempos delicti-nya, waktu kejadianya, belum jelas keterkaitanya..

“Namun jika benar benar sudah terbukti, bahwa isi ceramah tsb berisi hal hal yang bernuansa intoleran, menghasut, mengadu domba, menyudutkan pemerintah dll, kemudian karena  kadesnya menegur kemudian digruduk oleh kelompok gol garis keras.....dan ditekan agar minta maaf dan cium tangan, kami pikir keterlaluan….. Apapun juga, sekecil apapun  juga desa dibawah pimpinan seorang Kades atau Lurah merupakan representatif dari negara dan pemerintahan. Jadi, menghina kades sama dengan menghina negara dan pemerintahan.., Apalagi ketika cium tangan dan minta maaf tsb dimediakan dan diviralkan. Hal tersebut bila memang yang nersangkutan seorang pejabat Kades sama dengan melecehkan pejabat negara. Terlepas benar atau salah... seolah olah satu fihak ingin menunjukan sikap arogansi sebagai jagoan yang paling berkuasa, yang dengan sengaja menjatuhkan kehormatan dan harga diri seseorang tanpa mengindahkan dan menghormati bahwa ybs adalah seorang pejabat negara.. “paparnya

Mantan Kadiv Humas Polri ini menambahkan, sikap sikap demikian tidak bisa dibiarkan, harus ditindak tegas baik secara hukum maupun secara sosial, untuk membuat efek jera bahwa NKRI bukan Negara Premanisme tapi Negara Hukum... “Sebaliknya bila Lurah/Kades yang dianggap arogan, tidak harus digruduk dan ditarik-tarik bajunya, tinggal dilaporkan dan ditindak sesuai hokum. Jangan malah diviralkan dipermalukan, digoreng , dibuat gaduh dengan membangkitkan emosi masyarakat seakan-akan Lurah menghina ustadz, menghina agama. Lagi lagi agama dijual dibenturkan dengan negara.Teori basi yang selalu dijadikan sumbu pembakar.. Tidak mugkin juga Kades menegur jika ulama yang Tausyiah mengajarkan kedamaian dan kesejukan. Jadi, mari kita berpikir logis dan berimbang,  jangan hanya ditelan ujungnya  saja. " Menghina Ulama " Bukan saya tidak menghargai uama, saya sangat mencintai dan menghormati ulama, sepanjang ulama tsb tidak provokatif, tidak mengadu domba dan menghina negara, agama mana yang mengajarkan agar senantiasa gaduh, provokatif, menghina dan menyudutkan negara & pemerintahan ?”paparnya

            Anton Charliyan yang juga pembina di sejumlah Majelis Taklim ini menjelaskan, bahwa Islam yang saya tahu tidak mengajarkan untuk membuat rusuh dan gaduh. Islamlah yang  mengajarkan kesejukan dan kedamaian, Islam tidak mengajarkan pula untuk saling menyudutkan , saling mempermalukan dan saling menghinakan. Justru Islamlah yang mengajarkan agar umat-umatnya  agar saling menutup aib sesamanya... Lalu jika demikian, ajaran Islam yang mana yang jadi acuan mereka mereka yang suka buat gaduh dan rusuh .???  Marilah kita hidup berbangsa dan bernegara dengan penuh kedamaian, penuh kesejukan. Jangan sedikit sedikit selalu.saja dibenturkan ulama dengan aparat, agama dengan negara, agama dengan tradisi bahkan agama dengan agama... Jangan sampai kita semua terjebak dengan News Devide et Impera masa kini, yakni hoax, berita bohong , adu domba & fitnah..   Sehingga persatuan dan kesatuan kita luluh lantak ditelan sikap sikap intoleransi.”pungkasnya. (REDI MULYADI)***

 

Post a Comment

0 Comments