Pengusaha Konveksi Rumahan Di Pangandaran Mengeluh, Selama Vandemi covid-19 Penghasilannya Menurun Drastis

Pangandaran, LHI.

Masa pandemi Covid-19, menjadi salah satu faktor menurunnya pendapatan penghasilan bagi kalangan masyarakat yang mencari rezekinya di bidang konveksi rumahan. Seperti halnya masyarakat di kampung Anggaraksan, Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Selain bertani dan beternak, mayoritas masyarakat di kampung tersebut pekerjaannya sebagai penjahit di salah satu pengusaha konveksi rumahan.

Yang teknisnya, pemilik konveksi rumahan memperkerjakan masyarakat setempat untuk membuat pakaian jadi dengan bahan yang dikirim oleh mitra atau bos-nya dari luar wilayah Pangandaran. Namun, pandemi Covid-19 seorang pengusaha konveksi rumahan itu mengeluh karena omzet usaha yang dirintisnya sejak 2009 menurun.

Sejumlah order, harga untuk pengerjaannnya sangat murah, dan juga banyak pesanan yang dibatalkan. Seperti yang dikatakan pengusaha konveksi rumahan Mujito (48), bahwa saat ini penurunan omzet konveksi perumahan kurang lebih sekitar 50 persen. "Padahal, saat kondisi normal omzet konveksi bisa mencapai puluhan juta perbulan," ujar Mujito di rumahnya, Rabu (24/3/2021).

Usaha pakaian disini, kata Mujito, rata rata dikerjakan oleh penjahit profesional yang juga biasa melayani pesanan CMT (Cut, Make, dan Trim) dan biasa produksi ribuan pakaian. Untuk pendapatan perharinya itu, tergantung model dan harga satuannya. "Paling banyak order pakaian gamis, daster, dan kebanyakaan juga pakaian perempuan mulai dari ABG sampai dewasa," katanya.

Pekerjaan konveksi rumahan itu, lanjut Ia, biasa memperoleh order dari Jakarta, Tangerang, dan Bandung dengan system siap jahit atau siap di kemas. "Dalam seminggu, Saya bisa setor ke bos mencapai 5000 potong pakain jadi. Tentu dengan dikerjakan oleh karyawan yang berjumlah 20 orang," kata Mujito.

Menurut Mujito, untuk teknis sebagian ada yang kerja ditempat konveksi Ia, dan ada juga yang mengerjakan di rumah masing masing karyawannya. Namun, saat ini usaha konveksi rumahan tersebut terganjal pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. "Ditambah usaha Saya, mulai sulit lantaran adanya Pembatasan Sosal Berskala Besar (PSBB) beberapa waktu lalu," ucapnya.

Yang berdampak, susahnya order bahan mulai dari pengiriman dan mengambil model dari pihak Bandung, Tanggerang, maupun Jakarta. "Karena dengan alasan bos Saya, pergerakan orang disana dibatasi yang mengakibatkan pemasaran susah, malahan tidak bisa. Tentu, ini kondisi horor selama menjalani usaha dari tahun 2009," ucapnya. Apalagi, tambah Mujito, pada bulan April tahun 2020 kemarin itu menjadi bulan paling buruk bagi Ia. Karena, Orderan bulan April semuanya dicancel.

Meski demikian, saat ini Ia sedang berusaha tidak mengurangi jumlah pekerja di konveksinya. Namun, kalau pesanan nihil Ia terpaksa menghentikan produksi dan merumahkan sementara para pekerjanya. "Nanti, ketika pesanan ada, aktivitas produksi mulai beraktifitas dan pekerja juga kembali bekerja," ucapnya.

Mujito mengungkapkan, ada untungnya juga untuk usaha konveksi rumahan Ia tidak meminjam modal dari pihak perbankan. "Kalau minjam, malah lebih repot. Saya hanya mengandalkan down payment (DP) dari konsumen," ucapnya. Sementara, Kepala Dusun Anggaraksan Kartim mengatakan, ada 15 pengusaha konveksi rumahan yang berada di kampungnya.

"Yang Saya tahu, mayoritas mereka (pengusaha konveksi rumahan) ordernya dari Jakarta dengan model bermacam macam pakaian. Untuk menjahit pakaian, pekerjaannya dari warga setempat," katanya. Mereka, tambah Kartim, menjahit bahan yang sudah siap jahit dengan sample (contoh pakaian) beberapa model yang diberikan oleh bosnya. "Tapi, saat pandemi sekarang, omzet orderan dan penghasilan mereka turun sekitar 50 persen," ucapnya. (AS)

Post a Comment

0 Comments