Tradisi Mandi Safar di Pulau Rupat Menjadi Daya Tarik Tersendiri Bagi Wisatawan

Rupat,LHI
Budaya mempunyai makna yang penting bagi suatu masyarakat. Budaya timbul karena manusia dan interaksi sesama manusia. Salah satu budaya yang berkembang di Indonesia adalah kegiatan pada bulan Safar. Ritual mandi shafar adalah suatu upaya (laku) spiritual ke arah pendekatan diri kepada Tuhan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim di beberapa wilayah di Indonesia, di antaranya di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Kepulauan Riau, Maluku, Kalimantan, termasuk di salah satu wilayah di daerah Riau, tepatnya di Desa Tanjung Punak, Desa Makeruh, Desa Cingam Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.”ungkap Enggal Pribadi dan juga selaku Ketua Bakau Management Community kepada media Minggu (20/10/2019)
Lanjutnya beliau mengatakan Bagi warga pesisir selat Malaka, hari Rabu besok tanggal 23-28 Oktober 2019 dimana hari itu adalah hari spesial dimana hari Rabu besok adalah hari Rabu terakhir di bulan safar atau disebut dengan Rabu Capok, dimana pada hari Rabu besok keluarga diberkumpulkan untuk memohon doa restu dijaukan dari segala bencana yang berlaku. Tradisi inilah yang disebut dengan mandi Safar.
            Di Kabupaten Bengkalis ini sudah rutin setiap tahunnya dilaksanakan tradisi mandi Safar, bahkan sudah menjadi angenda tahunan bagi masyarakat Bengkalis, Khusus warga pulau Rupat, tak pelak kegiatan rutin ini banyak mengundang para wisatawan dari Propinsi Riau maupun luar Propinsi Riau.
            Saat ditemui Enggal Pribadi dan juga selaku Ketua Bakau Management Community selaku Organisasi Sosial kpeda wartawan .minggu 20/10 beliau mengajak bagi para Wisatawan yang ingin melihat langsung prosesi acara mandi Safar dan juga melihat keindahan pantai pasir putihnya apa lagi posisi letaknya berhadapan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, bisa datang di tanggal 23-27 Oktober 2019. Acara ini berlangsung selama 4 hari.
” Para wistawan yang ingin lihat langsung presesi acara mandi safar dan melihat keindahan alam bisa datang tanggal Rabu 23 ” ucapnya.
Ritual rutin yang di selenggarakan setiap bulan Shafar tersebut dihadiri dan diikuti oleh ratusan bahkan ribuan warga masyarakat, laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun orang muda yang datang dari desa-desa sekitar maupun dari daerah lainnya.
            Menurut salah seorang pengurus Lembaga Adat Melayu Rupat Utara,  Dollah saat ditemuai beliau memgatakan, upacara mandi safar ini dimulai sejak tahun 1950. Tradisi ini dibawa dari pesisir pantai di Malaysia. Masyarakat Rupat Utara sering membaur dengan masyarakat Malaysia karena asalnya kedua kelompok masyarakat ini adalah satu.
            “Mandi safar telah hadir disana sejak tahun 1920-an. Hanya saja mandi safar dilaksanakan di rumah masing-masing, bukan di tempat terbuka.acara upacara diaksanakan tahun 1950 an” ucapnya.(SUPRAPTO)****


Post a Comment

0 Comments