Petani Usman Mau Bayar Hutang ke Pengusaha Kilang Sagu, Koq Ditolak?

.

Selatpanjang,LHI
Pada hari Senin  (27/8/ 2018) pukul 15.00 WIB  ,  Usman penduduk Desa Banglas Jalan Perumbi Gang Juangsa Kecamatan Tebing Tinggi Selatpanjang, datang ke rumah toko pengusaha Kilang Sagu bernama Sandi, mau membayar utang sebesar Rp.25 juta. Ini merupakan utang tersebut berasal dari kesepakatan jual beli tual batang rumbia sagu.
                  Dalam kesepakatan jual beli tual sagu,dimana  tual batang rumbia sagu sudah dua kali penarikan tual sagu rumbia sagu ke kilang pengusaha sagu bernama Sandi. Jumlah tual batang rumbia sagu sudah di terima toke Sandi, sampai ke tempat kilang sagu miliknya.
                  Menurut keterangan   Usman sebagai petani kebun rumbia sagu kepada LHI  disaksikan oleh tokoh masyarakat  Rustam di rumah   Usman, “Saya pernah untuk meminjam yang kepada Pak Sandi untuk meneruskan pekerjaan saya yakni  menebang batang sagu dengan kawan-kawan.   Uang pinjaman tersebut tidak dapat! Akhirnya pekerjaan saya untuk meneruskan kelancaran tual batang sagu rumbia terkendala, tidak punya modal lagi untuk meneruskan pembayaran utang saya kepada Toke Sandi. “ungkapnya.
                  Dengan terkendalanya tual batang rumbia sagu, menurut Usman,  utang tetap saya akui sebanyak Rp.25 juta kepada   Sandi. “Setelah berbulan-bulan saya,  mengumpulkan uang untuk membayar utang saya kepada Pak Sandi, terkumpullah uang sebanyak Rp.25 juta, karena saya adalah petani kecil tentu lama mengumpul uang untuk membayar utang!  Namun yang   sangat menyedihkan hati saya, setelah terkumpul uang Rp.25 juta sesuai dengan hutang saya, ternyata ditolak oleh Pak Sandi.”katanya
                  Usman menirukan ucapan Sandi,” Utang kamu sudah lama, mana bisa dibayar dengan Rp.25 juta, lebih baik uang kamu bawa pulang saja,” dengan angkuhnya pengusaha kilang sagu bernama Sandi.
                  Ketua LSM PEKKI Riau Muhammad Rasyid mengatakan, pengusaha kilang sagu harusnya berjiwa Pancasila, bukan berjiwa kapitalis. Harus ada kebijaksanaan melalui musyawarah. Ini menyangkut utang piutang, kalau seorang mau membayar utang berarti sudah ada beriktikad baiknya.  “Tidak ada lagi istilah ijon atau pajak kebun jangan seperti VOC, Penjajah Belanda.  Umumnya petani sagu di Selatpanjang sampai kedesa-desa terjerat ijon alias pajak batang rumbia sagu kepada pengusaha kilang sagu, sehingga batang rumbia sagu milik petani kebun rumbia sagu harganya sudah terikat ijon alias pajak batang rumbia sagu kepada pengusaha kilang sagu.”jelasnya
                  Dengan pola seperti ini, kepada pengusaha kilang sagu, akhirnya petani sagu terlilit utang piutang sampai ke anak cucu. Utang tak terlepas dari utang piutang, bagaimana masyarakat petani sagu mau sejahtera kehidupannya, karena petani sagu tidak ada perlindungan berbadan hukum seperti koperasi atau perusahaan daerah untuk pengayoman petani pekebun rumbia sagu. Sedangkan toke-toke pengusaha kilang-kilang sagu mempunyai sebuah koperasi di Kota Selatpanjang. Koperasinya bernama Harmonis, Koperasi toke-toke alias pengusaha kilang sagu! Tentulah pengusaha kilang sagu lebih sejahtera kehidupannya.
                  Ketua LSM PEKKI Riau  mengatakan, agar pihak yang terkait di penyelenggara Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti , Provinsi dan Pemerintah Pusat agar mendata kebun petani masyarakat kecil (wong cilik), berapa luasnya kebun milik petani Se-Kabupaten Kepulauan Meranti, supaya mendapat pengayoman sebuah lembaga berbadan hukum berpihak kepada petani pekebun rumbia sagu masyarakat di seluruh desa-desa yang ada Se-Kabupaten Kepulauan Meranti ,pungkasnya  (RAMLI ISHAK)***


0 komentar:

Post a Comment

Disdukcapil Kota Banjar

Disdukcapil Kota Banjar

DISDUKCAPIL KOTA BANJAR

DISDUKCAPIL KOTA BANJAR